Teknik Budidaya Tanaman Karet

Teknik Budidaya Tanaman Karet

Karet adalah polimer hidrokarbon yang terbentuk dari emulsi kesusuan (dikenal sebagai lateks), diperoleh dari getah beberapa jenis tumbuhan pohon karet.  Sumber utama lateks yang digunakan untuk menciptakan karet adalah pohon karet (Hevea brasiliensis Moel.), diperoleh dengan cara melukai kulit pohon sehingga pohon akan memberikan respons dengan mengeluarkan getah/lateks.

Tanaman karet berasal menurut hutan sepanjang sungai Amazone, Amerika Selatan dan mulai dikenal oleh bangsa Eropa dalam tahun 1736 sesudah Charles Martie de la Condomine mengirim contoh tumbuhan karet menurut Peru ke Perancis. Mulai masuk ke Indonesia dalam tahun 1876 dan ditanam pada kebun Raya Bogor, tetapi perkebunan karetnya sendiri baru dibuka dalam tahun 1902 di Sumatera & tahun 1906 di Jawa.

Jenis-jenis karet alam di antaranya: bahan olah karet (bokar), karet konvensional (sheet, crepe, dan compo), lateks pekat, karet spesifikasi teknis (crumb rubber) dan karet siap olah. Karet alam banyak digunakan sebagai bahan baku dalam industri barang antara lain: ban kendaraan, sepatu karet, sabuk penggerak mesin, pipa karet, isolator, bahan pembungkus logam, dsb., dihasilkan oleh tidak kurang dari 20 negara di dunia; tiga di antaranya yaitu Malayasia, Indonesia, dan Thailand, merupakan penghasil karet terbesar yang menguasai lebih dari 83 % pasar karet dunia.

Karet alam merupakan salah satu komoditas pertanian yang penting di Indonesia karena banyak menunjang perekonomian negara.  Pasar ekspor karet alam Indonesia di antaranya Amerika Serikat, Singapura, Eropa Barat, Uni Soviet dan Jepang.   Luas areal perkebunan karet di Indonesia (tahun 2008) mencapai lebih dari 3,4 juta hektar dengan produksi 2,7 juta ton, yang sebagian besar (85%) merupakan tanaman karet rakyat.  Oleh sebab itu, peran karet tidak hanya sebagai penghasil devisa, juga memiliki arti sosial bagi petani yang mengusahakannya.

Salah satu kasus yg dihadapi pada pengusahaan karet di indonesia, khususnya karet rakyat merupakan produktivitas serta kualitasnya yg masih rendah. Pemerintah telah tetapkan target pengembangan produksi karet alam Indonesia sebanyak 3 ? 4 juta ton/tahun pada tahun 2025. Sasaran produksi tadi hanya bisa dicapai jika minimal 85% areal kebun karet (warga ) yang ketika ini kurang produktif berhasil diremajakan dengan memakai klon karet unggul.

Aspek Botani

1.    Sistematika

Divisio                  : Spermatophyta

Subdivisio             : Angiospermae

Klas                             : Dicotyledoneae

Ordo                              : Tricoceae

Familia                            : Euphorbiaceae

Genus                                   : Hevea

Spesies                                   : Hevea brasilliensis Moel.Agr.

2.    Morfologi Tanaman

Tanaman karet memiliki perakaran yang ekstensif, akar tunggangnya mampu tumbuh menembus tanah sampai 2 m, sedangkan  akar lateralnya menyebar sepanjang lebih dari 10 m.

Tanaman karet berbentuk pohon dengan tinggi 15-25 m, tipe pertumbuhan tegak dan memperlihatkan pola pertumbuhan berirama (ritme), yakni terdapat masa tumbuh (flush) dan masa istirahat (latent) yang bergntian dalam periode sekali dalam dua bulan.Batangnya berkayu, dengan susunan dari luar ke dalam sebagai berikut:

(a)   kulit keras, terdiri dari lapisan gabus, kambium gabus, lapisan sel batu;

(b)  kulit lunak, di dalamnya terdapat floem dan pembuluh lateks;

(c)   kambium;

(d)  kayu/xylem.

Pembuluh lateks melingkar di dalam jaringan floem seperti spiral, membentuk sudut 3,7o – 5o terhadap garis vertikal dari kanan (atas) ke kiri (bawah).

Daun flora karet merupakan daun majemuk, dimana satu tangkai daun umumnya mempunyai tiga-5 anak daun.Tangkai daun panjangnya 3-20 cm, anak daun eliptis memanjang menggunakan ujung runcing, tepi rata & gundul.Daun tumbuh pada buku-buku menciptakan karangan daun yg dianggap payung.Termasuk tnaman decidious, menggugurkan daunnya dalam trend kemarau.

Bunga tersusun dalam rangkaian (malai) berbentuk seperti kerucut.Termasuk tanaman monoceous (bunga jantan dan betina letaknya terpisah dalam satu malai), bunga jantan terletak di bagian bawah/pangkal dari cabang-cabang malai sedangkan bunga betina terletak di ujung malai.Bunga betina memiliki 3 bakal buah yang beruang 3 dengan kepala putik yang duduk, bunga jantan memiliki 10 benang sari yang bersatu membentuk tiang, serbuk sari lengket, kecil dengan diameter 25-30 mikron.

Buah karet mempunyai garis tengah antara 3-5 cm, dengan bagian ruang yang berbentuk setengah bola;  biji besar, berbercak/bernoda (khas dan beracun).Masak buah yang normal sekitar 5 bulan, buah masak pecah dengan kuat menurut ruang.

Persyaratan Tumbuh

Ketinggian loka

Tanaman karet poly ditanam pada ketinggian 0-500 m dpl, menggunakan ketinggian optimum 0-200 m; meningkat tempat penanaman pertumbuhan lambat sebagai akibatnya waktu buka sadap sebagai tertunda. Berdasarkan output penelitian, interaksi antara ketinggian loka menggunakan rata-rata umur buka sadap merupakan sebagai berikut:

(a)        0-200 m dpl; < 6 tahun

(b)       200-400 m dpl; 7 tahun

(c)        400-600 m dpl; 7,5 tahun

(d)       600-800 m dpl; 8,6 tahun

(e)        800-1000 m dpl; 10,2 tahun.

Iklim

Tanaman karet tumbuh baik pada lintang 6o LU – 6o LS, namun masih bisa tumbuh baik pada lintang 10o LU – 10o LS. Membutuhkan daerah panas dan lembab dengan suhu yang dikehendaki antara 24o – 28o C.Curah hujan tidak kurang dari 1500-2000 mm/th, yang terdistribusi merata sepanjang tahun; paling baik curah hujan 2500-3000 mm/th dengan 100-150 hari hujan.

Tanah

Tanaman karet dapat tumbuh dalam banyak sekali jenis tanah dengan kemiringan tanah kurang dari 10%. Kedalaman efektif lebih menurut 100 centimeter, tekstur tanah terdiri lempung berpasir & liat berpasir, pH tanah berkisar antara 4,tiga ? Lima,0, menggunakan drainase tanah sedang.

Persiapan Lahan

1.    Pembukaan Lahan

Lahan yg digunakan

Lahan buat budidaya tumbuhan karet bisa berupa huma yang baru dibuka (perluasan/new planting), huma bekas tanaman karet yag dibongkar (peremajaan/replantig), atau lahan bekas tumbuhan lain (konversi)

Kegiatan pada areal yg baru dibuka mencakup

Penebangan pohon, pembongkaran tunggul, pembabadan/penebasan semak dan pembersihan sisa-sisa tumbuhan tersebut (pembakaran). Pengolahan tanah dengan pembajakan atau pencangkulan untuk meratakan dan memperbaiki sifat fisik tanah. Pembuatan saluran drainase, pembuatan teras, dan  pembuatan jalan kebun.

Kegiatan pada pembukaan ulangan/peremajaan atau konversi meliputi

Pembongkaran tumbuhan tua & pencucian residu-residu flora tadi; pengolahan tanah; perbaikan teras, saluran dan jalan kebun.

2.    Konservasi Lahan

Cara yang biasa dipakai buat mencegah kerusakan lahan, mencakup: (a) penanaman menurut kontur; (b) pembuatan teras (bisa berbentuk teras individu atau teras kolektif); (c) penanaman flora penutup tanah.

3.    Pengajiran

Tujuanya adalah untuk memperoleh barisan tanaman yang teratur sesuai jarak tanam dan huungan tanaman. Barisan tanaman karet yang terbentuk ada dua macam:            (1) barisan lurus, untuk lahan yang datar dan agak miring; (2) barisan kontur, pada lahan yang bergelombang atau berbukit. Hubungan antar tanaman pada lahan datar atau agak miring dapat berbentuk segitiga sama sisi, bujur sangkar atau hubungan jalan.

4. Penanaman penutup tanah

Manfaat tanaman penutup tanah: (1) melindungi permukaan tanah terhadap erosi; (2) menekan pertumbuha gulma; (tiga) mengurangi penguapan & membantu menyimpan air tanah; (4) menaikkan kesuburan tanah; (5) memperbaiki pertumbuhan flora utama; (6) memperlama masa peremajaan; (7) menaikkan hasil dan pertumbuhan kulit yang lebih baik.

Tanaman penutup tanah yang banyak digunakan yaitu dari keluarga Leguminosa (disebut LCC=Legum Cover Crops), antara lain Calopogonium mucunoides, C. caeruleum, Centrosema pubescens, C. plumieri, Mucuna colchichinensis, dsb.

Penanaman dilakukan secara campuran dengan komposisi buat 1 ha huma sbb:

–    campuran C. mucunoides (2,8 kg) + C. phaseloides (2,3 kg) + C caeruleum (0,6 kg);

–    campuran C. phaseloides (3,4 kg) + C. caeruleum (0,6 kg) + M. colchichinensis (1,7 kg);

–    campuran C. pubescens (3,9 kg) + C. phasoloides (1,2 kg) + C caeruleum (0,6 kg).

Cara menanam LCC: (1) jarak barisan pertama dengan tanamn karet 1,0 m, barisan berikutnya berjarak 1,0 m pada lahan datar atau landai, dan 1,8-2,4 m pada lahan bergelombang atau berbukit; (2) benih ditanam pada lubang sedalam 5-10 cm dalam barisan sesuai dengan jarak tanam LCC tsb; (3) sebelum ditanam benih LCC terleih dahulu direndam dalam air panas (70 oC) selama 2 jam, kemudian dicampue dengan pupuk fosfat (misal CIRP) dengan perbandingan yang sama; (4) LCC perlu dipelihara dan dijaga jangan sampai mengganggu pertumbuhan tanaman pokok.

Persiapan Bahan Tanaman

Tanaman karet bisa diperbanyak menggunakan biji atau dengan cara okulasi menggunakan btg bawah asal biji.Bahan flora, baik buat btg bawah juga batang atas, berupa klon-klon yg dianjurkan yg mempunyai produksi dan sifat-sifat sekunder yg baik.

Sifat-sifat ideal buat klon unggul: (a) produksi lateksnya tinggi semenjak awal dan memiliki kemampuan buat menaikkan produksi; (b) resisten terhadap hama dan penyakit dan pengaruh angin; (c) batang tumbuh lurus, membentuk as yg silindris, serta tumbuh jagur; (d) cabang relatif kecil dan menyebar, menciptakan sudut yang akbar menggunakan btg.

Batang bawah

Persyaratan untuk batang bawah: (a) perakaran kuat dan berkembang baik serta tahan terhadap penyakit akar; (b) mempunyai daya gabung yang baik dengan batang atas; (c) memberi pengaruh yang beik terhadap pertumbuhan batang atas, Klon yang dianjurkan untuk batang bawah adalah  AVROS 2037, BPM 24, GT 1, PB 260 dan RRIC 100

Biji diambil dari kebun induk khusus atau dari kebun produktif yang menghasilkan biji yang diketahui kedua induknya (legitiem) atau minimal salah satu induknya (propelegitiem). Biji yang baik berasal dari tanaman yang telah berumur minimal 8 tahun, dengan ciri-ciri: (a) bila dijatuhkan melenting ke atas; (b) kulit jernih mengkilat; (c) nilai kesegaran biji minimal 80 %; (d) daya kecambah (dalam waktu 21 hari) minimal 80 %; (e) kadar air 32-45 %; (f) kemurnian minimal 90 %.

Batang atas

Persyaratan buat btg atas: (a) pertumbuhan jagur & berpotensi produksi tinggi; (b) memiliki tajuk yang baik dan tahan angin kencang; (c) toleran terhadap penyakit; (d) respon terhadap stimulasi; (e) mempunyai sifat sekunder (pemulihan kulit sadap, daya adaptasi, dll) yg baik.

Klon-klon unggul karet yang direkomendasikan Pusat Penelitian Karet untuk periode 2006-2010 terdiri berdasarkan 2 kelompok.

(1)                        Klon anjuran komersial adalah sekelompok klon dengan data yang lebih lengkap dan sudah dapat dikembangkan oleh pengguna. Klon-klon ini sudah berupa benih bina, kecuali klon IRR 42 dan IRR 112 masih dalam proses pengajuan untuk pelepasannya sebagai benih bina. Klon-klon anjuran komersial terdiri dari tiga katagori.

–       klon penghasil lateks: BPM 24, BPM 107, BPM 109, IRR 104, PB 217 dan    PB 260.

–       klon penghasil lateks-kayu: BPM 1, PB 330, PB 340, RRIC 100, AVROS 2037, I RR 5, IRR 32, IRR 39, IRR 42, IRR 112 dan IRR 118,

–       klon penghasil kayu: IRR 70, IRR 71, IRR 72 dan IRR 78.

(2)                        Klon harapan, merupakan kelompok klon yang mempunyai potensi pertumbuhan dan produksi tinggi tetapi belum berupa benih bina.  Klon harapan terdiri dari: IRR 24, IRR 33, IRR 41, IRR 54, IRR 64, IRR 105, IRR 107, IRR 111, IRR 119, IRR 141, IRR 208, IRR 211 dan IRR 220.

Pesemaian pengecambahan

Pesemaian pengecambahan adalah tempat buat mengecambahkan benih karet sebelum dipindahkan ke pembibitan. Maksud pengecambahan merupakan: (1) buat memperoleh bibit yang pertumbuhannya seragam; (dua) buat memisahkan/menyeleksi bibit yang pertumbuhannya cepat & baik menurut bibit yang lambat & kurang baik.

1) Persiapan bedengan

Lokasi datar, dekat dengan sumber air & dekat dengan lokasi pembbitan, Tanah dibersihkan, dicangkul dan diratakan, kemudian dibentuk bedengan dengan ukuran lebar 1-1,dua m & panjang sesuai loka (umumnya lima-10 m), menggunakan jarak antar bedengan 0,lima-1 m. Bagian samping bedengan diberi resistor berdasarkan bambu/batu bata kemudian diberi pasir diatasnya setebal 5 cm. Bedengan diberi naungan (mampu individu atau kolektif) dengan tinggi sebelah timur 1,5 m dan barat 2m, dengan atap terbuat dari anyaman bambu atau alang-alang.

2) Menyemai benih

Sebelum disemai benih direndam terlebih dahulu dalam larutan KNO3 0,2% selama 24 jam atau air bersih selama 48 jam. Benih disemai dengan cara dibenamkan sedalam 2/3 bagian ke dalam tanah dengan bagian perut menghadap ke bawah. Jarak antara barisan 5 cm dan dalam barisan 3 cm. Persemaian disiram tiap pagi dan sore hari dengan menggunakan embrat. Benih biasanya akan berkecambah setelah 10-14 hari.

3) Pemindahan kecambah

Benih yang telah berkecambah secra bertahap dipindahkan ke pesemaian bibit. Pemindahan kecambah bisa dilakukan pada stadium pancing, stadium bintang, maupun stadium jarum.  Pemindahan paling baik pada stadium pancing. Pemindahan dilakukan dengan hati-hati menggunakan alat mencungkil (solet).

Pembibitan

Pembibitan/pesemaian bibit adalah tempat pemeliharaan bibit sebelum dipindah ke lapangan dengan tujuan memperoleh bbit yg jagur & homogen.

1) Persiapan lokasi pembibitan

Lokasi dipilih lahan yg datar, dekat dengan sumber air, nir bercadas, & dekat dengan lokasi penanaman. Lahan dicangkul sedalam 60-75 cm, dan dibersihkan dari sisa-residu akar & kotoran lainnya. Tanah dihaluskan dan diratakan, kemudian dibentuk petak-petak/bedengan dengan tinggi 20 cm. Jarak tanam bibit diadaptasi menggunakan kesuburan tanah dan lamanya bibit di pesemaian.

–    bibit umur 1 tahun: jarak tanamnya 35 x 35 x 50 cm (47.320 bibit/ha)

–    bibit umur 2 tahun: jarak tanamnya 45 x 45 x 50 cm (34.080 bibit/ha)

–    bibit stum tinggi: jarak tanamnya 70 x70 cm (17.664 bibit/ha).

2) Penanaman kecambah

Kecambah dipindahkan pada stadium pancing agar akar tunggang dan pucuknya nir rusak. Penanaman dilakukan pad lubang tanam dengan kedalaman sesuai dengan panjang akar & tebalnya benih.

3) Pemeliharaan

Pemeliharaan pembibitan meliputi aktivitas penyiraman, penyulaman, anugerah mulsa, pengendalian gulma & pemupukan. Penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari. Penyulaman perlu dilakukan dalam bulan-bulan pertama buat mengganti bibit yang tewas atau pertumbuhannya kurang baik. Sampai umur tiga bulan (terutama dalam animo kering) pembibitan perlu diberi mulsa. Pengendalian gulma dilakukan 2 minggu sekali secara manusl memakai cangkul/kored, penggunaan herbisida hanya dilakukan selesainya bibit berumur 4-lima bulan.

Pemupukan

–    aplikasi dilakukan dengan cara melingkar di bawah tajuk tanaman;

–    pemupukan dihentikan satu bulan menjelang okulasi.

Waktu Dosis pupuk (g/ph/aplikasi Urea TSP MOP a. Bibit stum pendek (hst)

90

120

150

180

210

16

16

16

16

23

11

8,8

11

11

14,lima

12

12

18

b. Bibit stum tinggi

Tahun I  semester I

semester II

Tahun II semester I

semester II

30

45

90

35

50

100

30

45

90

Okulasi

Okulasi/penempelan bertujuan buat menyatukan sifat-sifat baik yg dimiliki oleh batang bawah (stock) menggunakan batang atas (scion) yang ditempelkan kepadanya.

Macam-macam okulasi

1) Okulasi coklat (brown budding)

Batang bawah yang dipakai berumur 9-18 bulan, diameter berkisar ? 1-2 centimeter dan nir berada dalam stadium membentuk payung. Mata entres diambil berdasarkan kebun entres, dari btg yang telah berwarna coklat, dengan diameter 1,lima-tiga centimeter.

(2) Okulasi hijau

Batang bawah yang digunakan berumur 3-8 bulan, masih berwarna hijau dengan diameter 1-1,5 centimeter. Kayu okulasi (entres) menggunakan cabang yang diambil berdasarkan kebun entres yang berumur 1-tiga bulan setelah pemangkasan, warnanya masih hijau & telah menciptakan 1-2 payung.

Pelaksanaan okulasi

Pada batang bawah, pada ketinggian 7-10 cm dari permukaan tanah dibentuk jendela dengan menyayat kulit sampai batas kayu. Sayatan dilakukan menggunakan menciptakan 2 sayatan vertikal berukuran 5-7 centimeter, dan satu sayatan horizontal dalam ujung sayatan bagian atas atau bawah. Perisai (mata entres) diambil dari kayu entres menggunakan berukuran sedikit lebih mini berdasarkan; dalam okulasi coklat bagian kayunya dilepas, sedangkan dalam okulasi hijau nir perlu dilepas. Perisai lalu diselipkan dalam jendela yg sudah dibentuk, diantara kulit ventilasi menggunakan kambium. Balut dengan pembalut yang tersedia (plastik atau rapia) dengan arah berdasarkan bawah ke atas.

Pemeriksaan hasil okulasi

Dua sampai tiga minggu setelah penempelan, pembalut dibuka & perisai diperiksa menggunakan cara menggores sedikit menggunakan pisau; apabila masih berwarna hijau segar memberitahuakn perisai masih hidup. Pemeriksaan diulang 1-2 minggu lalu, apabila tetap dalam keadaan segar menunjukkan okulasi berhasil.

Pemotongan batang bawah

Pemotongan btg bawah bertujuan buat menghentikan pertumbuhan ke atas sebagai akibatnya zat kuliner bisa dipakai buat pertumbuhan okulasi. Waktu pemotongan tergantung pada macam bibit yg akan ditanam. Batas mutilasi kurang lebih 10 cm di atas tempelan dengan arah miring (bagian yg tinggi berada pada atas tempelan.

5. Macam-macam bibit hasil okulasi

Bibit hasil okulasi yang dipindahkan ke lapangan/kebun dapat berbentuk stum mata tidur, stum mini , stum tinggi & bibit pada polibeg.

1)   Stum mata tidur (budded stump)

Stum mata tidur adalah bibit output okulasi dalam bentuk stum menggunakan mata tunas yg belum tumbuh dalam waktu pemindahan ke lapangan. Stum mata tidur dari dari hasil okulasi coklat, dan dipindahkan dua minggu setelah pemotongan. Panjang stum ? 50 cm menggunakan panjang akar tunggang 40 centimeter dan akar lateral lima-10 centimeter.

2)   Stum mini (mini stump)

Stum kecil merupakan bibit okulasi yg ditumbuhkan pada pembibitan selama 8-12 bulan selesainya mutilasi sehingga bagian batangnya telah berwarna coklat. Tunas yg tumbuh dip[otong dengan tinggi 50 cm dari pertautan, menggunakan panjang akar tunggang 40 cm dan akar lateral 10 centimeter.

3)   Stum tinggi (advanced budded material)

Stum tinggi adalah bibit hasil okulasi yg diperoleh menggunakan cara menumbuhkan tanaman pada pembibitan selama dua-3 tahun setelah pemotongan. Tunas yang tumbuh dipotong sepanjang 275-300 centimeter dari leher akar menggunakan panjang akar tunggang 45-60 cm dan akar lateral 15 cm. Pemotongan akar tunggang dilakukan tiga-4 minggu sebelum pembonghkaran dan pemotongan btg atas dilakukan 2 minggu lalu tepat pada atas payung.

4)   Bibit okulasi dal;am kantong plastik

Merupakan bibit okulasi yg telah ditumbuhkan pada kantung plastik/polibeg hingga diperoleh bahan flora yg memiliki dua-3 payung (umur 1 tahun). Dibuat menggunakan cara memindahkan stum mata tidur dalam kantong plastik merukuran 25×55 centimeter.

Kelebihan & kekurangan masing-masing bibit

Macam bibit Kelebihan Kekurangan Stum mata tidur mudah dalam pengangkutan dan penanaman

biaya pemeliharaan pembibitan murah

persentase kematian di lapangan tinggi

ada resiko kerusakan tunas

biaya TBM tinggi

Stum mini kematian di lapangan rendah

kemungkinan tumbuh tunas palsu kecil

biaya pembibitan rendah

sampai umur 3 tahun tanaman masih bengkok Stum tinggi persentase kematian rendah

baik utuk penyulaman agar matang sadap seragam

mudah dilaksanakan

seleksi di pembibitan lebih teliti

areal pembibitan harus luas

sulit dalam pengangkutan

waktu penanaman memerlukan curah hujan yang tinggi

Bibit dalam polibeg tidak terjadi stagnasi di lapangan

tanaman seragam

perawatan di pembibitan mudah

penanaman dapat dilakukan kapan saja

biaya bibit lebih tinggi

sulit dalam pengangkutan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *