Nutrisi AB-Mix untuk Hidroponik

Nutrisi AB-Mix untuk Hidroponik

Jadi inilah salah satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang awam saat mengetahui bahwa hidroponik menggunakan air. Bisa tah kalau pakai air saja?. Tentunya tidak bisa. Kita tidak menanam tanaman hidroponik hanya dengan media air saja. Air hanyalah sebagai pengantara saja, tetap diperlukan nutrisi untuk tumbuhan tersebut dapat tumbuh dan berkembang.

Nutrisi AB-Mix dalam bentuk cair.

Secara garis akbar terdapat dua Komponen nutrisi yang dibutuhkan oleh flora yaitu makronutrient dan Mikronutrient.

Unsur Makronutrient :  Mengandung unsur-unsur  Nitrogen (N), Phospat (P), Kalium (K), Calcium (Ca), Magnesium (Mg), Sulfur (S).

Unsur Mikronutrient: Mengandung unsur-unsurBesi (Fe), Mangan (Mn), Zinc (Zn), Boron (B), Clor (Cl), Molibdenum (Mo)

Secara sederhana, semua nutrisi tersebut telah terdapat di pada paket AB-Mix yang kita beli. Kecuali kita ingin memodifikasi nutrisi yg kita berikan (dalam pehidroponik tingkat tinggi), maka relatif kita memberikan yang ada dalam nutrisi AB-Mix sesuai aturan.

Kenapa wajib dibedakan sebagai dua botol? Kenapa tidak satu saja?. Hal ini dikarenakan ada bahan yg terdapat pada botol a dan b yg apabila mencampur akan mengakibatkan reaksi. Reaksi ini akan mengakibatkan kandungan nutrisi menjadi berubah. Sehingga cairan a atau b harus dilarutkan ke air dahulu baru kemudian dibubuhi cairan pelengkapnya (a atau b). Misal anda campur dulu 5ml cairan B kedalam 1 liter air, larutkan. Stelah itu baru tambahkan 5ml cairan A.

Ada 2 jenis Nutrisi AB-Mix dipasaran yaitu yang pada bentuk cairan seperti diatas, dan pada bentuk padatan seperti gambar dibawah

Nutrisi AB-Mix pada padatan

Untuk lebih gampang maka pehidroponik pemula umumnya memakai nutrisi AB-mix cair. Caranya gampang saja untuk menciptakan larutannya. Tinggal tambahkan 5ml (satu tutup botol tersebut) larutan B kedalam 1 liter air. Aduk homogen sementara waktu, kemudian tambahkan 5ml larutan A. Yang krusial jangan campur larutan A & B secara langsung.

Simpanlah Nutrisi AB-Mix ini ditempat yg teduh nir terkena matahari pribadi, karena bila terkena mentari pribadi, maka cairan akan bisa berlumut atau rusak. Untuk harga, Nutrisi yg terdapat pada foto paling atas (menurut HIMA-Mix) harganya 20 rbu satu paket buat nutrisi sayuran & 25 rbu buat nutrisi buah. Dari keterangannya, satu paket tersebut dapat digunakan buat 100 liter dengan 1000ppm. Cairan yang sudah dicampur tersebut dapat pribadi dipakai untuk flora.

Jika anda memakai sistem wick (botol) bisa anda eksklusif masukkan ke pada botol. Tetapi perhatikan PPM yang direkomendasikan buat masing-masing flora. Untuk selada umumnya berkisar antara 500-700 ppm. Sehingga saya tidak menuangkan satu tutup botol penuh nutrisi, namun agag kurang sedikit ke dalam 1 liter air.

Posted in: Hidroponik, Nutrisi ABMix

6 Alat utama dalam Hidroponik Sederhana

6 Alat utama dalam Hidroponik Sederhana

Jika anda ingin memulai Hidropnik, niscaya anda bertanya apa saja alat-alat yg diperlukan buat memulai bertanam Hidroponik. Sebenarnya poly sekali alat-indera yg masih ada pada bertanam secara Hidroponik, tetapi dalam posting kali ini, saya akan mengungkapkan alat-alat primer yang dibutuhkan buat Hidroponik sederhana. Yang penting bagaimana sayuran Hidroponik anda sanggup tumbuh, tidak perlu aneka macam macam alat misalnya pe-Hidroponik profesional.

Well, inilah indera-alatnya/

1. Nutrisi Ab Mix

Nutrisi AB-Mix

Ini seringkali menjadi pertanyaan bagi banyak orang mengenai hidroponik. Apakah media tanam Hidroponik hanya air saja? Tentu tidak…Bila hanya air saja, pertumbuhannya akan sangat terlambat karena tidak ada nutrisi lengkap yang diserap tumbuhan. Pada pertanian tradisional atau di tanah, nutrisi diambil dari kandungan hara tanah, maka untuk hidroponik, unsur hara ini digantikan oleh nutrisi AB-Mix yang memiliki unsur makro dan mikro nutrien.

Ada 2 jenis Nutrisi AB-Mix yg tersedia pada pasaran, yaitu dalam bentuk cair misalnya diatas & bentuk padatan. Untuk bentuk padatan umumnya digunakan buat pertanian Hidroponik skala akbar. Untuk pemula umumnya menggunakan Nutrisi cair diatas karena mudah dipakai. Yaitu dengan mencampur 5ml cairan B kedalam 1 liter air, lalu disusul 5 mililiter cairan A dimasukkan kedalam campuran tadi. Lima ml cairan A/B hampir setara menggunakan satu tutup botol cairan tadi (tutup berwarna hijau).

Selanjutnya mengenai Nutrisi AB-mix seperti cara pengunaan, menyimpan dll kita bahas lebih lanjut…

2. Rockwool

Rockwool

Pertanyaan pertama yang sering dikemukakan adalah terbuat dari apakah rockwool tersebut. Kita bisa tahu dari arti namanya, rock adalah batu. Rockwool adalah batu yang dipanaskan sehingga akhirnya berbentuk seperti spon yang mampu menyerap air dengan banyak. Kegunaan rockwool adalah sebagai media tanam pertama/penyemaian benih. Seperti pada gambar, benih akan pecah dan tumbuh pada rockwool.

Rockwool tidak bisa digantikan dengan spon, kassa atau kapas karena tidak dapat menyimpan air dengan banyak dan strukturnya tidak keras sehingga tidak dapat sebagai tempat pijakan akar semaian. Simpanlah rockwool ditemapt yang kering dan tertutup oleh plastik. Bila lembab maka rockwool akan sulit untuk dipotong. Pembahasan lebih panjang dari rockwool dapat dilihat diAPA ITU ROCKWOOL DALAM HIDROPONIK?

3.Benih

benih

Tentunya jika anda menanam, anda akan memerlukan yang namanya benih. Benih buat hidroponik tidak berbeda menggunakan benih buat pertanian laiinnya. Bedanya merupakan yg ditanam biasanye jenis sayuran selada, sawi, bayam, kangkung dll. Kita tidak mampu menanam padi menggunakan teknik hidroponik. Kita masih mampu menanam tomat, melon, cabe dan laiinya menggunakan teknik hidroponik yang berbeda. Biasanya memerlukan media tanam tambahan selain rockwool saja.

Untuk benih mampu tersedia dalam kondisi satu paket seperti gambar dibawah yg biasane berisi lebih kurang 5gr menggunakan jumlah ratusan hingga ribuan benih dan harga puluhan ribu. Atau pada bentuk re-packed misalnya gambar diatas dengan harga yang lebih murah (lima-10rbu) dengan jumlah benih puluhan hingga ratusan.

Benih syarat packed. Berisi ratusan hingga ribuan benih.

O ya, satu hal yang penting dalam penyemaian, bila benih yang anda semai tidak tumbuh tumbuh semuanya. Jangan sedih karena mungkin itu bukan salah anda tetapi salah benihnya. Kadang beberapa benih tidak dapat tumbuh karena kualitas yang buruk atau sudah kadaluarsa atau kondisi sudah tidak baik/rusak. Untuk amanya belilah yang masih kondisi packed, tapi tentunya harganya mahal dan jumlahnya banyak sekali. Saya mengakalinya dengan membeli bersama beberapa teman sehingga bisa dibagi-bagi.

4. Flanel dan 5.Net-pot

Netpot

Flanel adalah sejenis kain yg mampu menyerap air. Gunanya adalah buat mengalirkan air berdasarkan cairan nutrisi ke akar flora. Flanel dipakai umumnya dalam sistem wick/botol. Lantaran pada tanaman belia/semaian, akar belum panjang dan kurang bisa menyerap cairan nutrisi.

Sedangkan netpot adalah tempat buat tanaman belia berada. Bila dalam sistem botol anda tidak memerlukan netpot lantaran loka semaian anda adalah ketua botol tadi.

6. Botol

Botol adalah tempat anda meletakkan semaian dan nutrisi. Anda mampu memakai botol yang lain yg terdapat disekitar anda, tapi aku menyarankan botol diatas lantaran berwarna biru. Warna ini mengakibatkan sinar mentari kurang bisa menembus botol sehingga cairan nutrisi didalamnya tidak kepanasan dan tidak akan berlumut. Nutrisi hidrponik akan sangat gampang berlumut bila terkena cairan matahari walau loka anda sangat higienis.

Tentu ada beberapa loka lain yg anda bisa gunakan misalnya foto dibawah

Memakai kotak kue
menggunakan botol bening
Memakai kotak bekas kue
Kumpulan selada di botol

Well inilah indera-indera pokok buat memulai hidroponik yg sederhana. Tentu saja anda sanggup berimprovisasi sinkron kesukaan anda.

Tiga hal yang anda perlu perhatikan yaitu: Cairan, Sinar Matahari dan Akar harus mampu menyera cairan.

Jika terdapat pertanyaan, silahkan anda tuliskan pada kolom komentar, kita sama sama belajar 🙂

Seberapa penting Flanel untuk Hidroponik?

Seberapa penting Flanel untuk Hidroponik?

Flanel sebenarnya tidak selalu terdapat dalam penggunaan sistem Hidroponik, Hal ini dikarenakan penggunaan Flanel akan menambah biaya yg cukup banyak. Satu tanaman bisa menambah 100-300 rupiah. Hal ini tentu saja jelek dari segi bisnis. Namun bagi pemula yang baru belajar hidroponik, disarankan buat memakan Flanel lantaran akan sangat membantu pertumbuhan akar.

Flanel merupakan jenis kain yang terbuat menurut serat wol tanpa ditenun. Flanel acapkali digunakan menjadi bahan kerajinan. Tetapi karena teksturnya yang mudah menyerap air, maka bisa digunakan pada sistem Hidroponik.

Flanel & Netpot

Hasil menurut pengamatan & percobaan aku sendiri adalah tanaman yg menggunakan flanel akan lebih gampang untuk akbar dan akarnya lebih banyak daripada yang tidak memakai flanel. Saya masih memakai flanel dikarenakan saya menggunakan sistem wick/botol sehingga ada jeda pisah antara air & akar tumbuhan. Jarak yang terpisah inilah yg dihubungkan sang flanel sehingga akar tanaman mampu merogoh air & nutrisi yg ada.

Seperti terlihat pada gambar dibawah, akar akan merambat pada  flanel sehinnga akar mampu menyerap air nutrisi. Bagian ujung bawah flanel tercelup kedalam air dan air dapat merambat keatas. Penggunaan Flanel pada sistem wick dapat mempercepat pertumbuhan akar dan perkembangan tanaman sendiri lebih baik. Sedangkan yang tidak menggunakan flanel dapat beresiko tanaman mati karena tidak mendapatkan air. Saya sendiri sengaja mencoba pada beberapa botol untuk tidak memakai flanel, tetap tumbuh namun anda harus terus menjaga level air agar selalu menyentuh rockwool. Karena pada beberapa tanaman saya akhirnya mati karena tidak mendapat air.

Untuk harga flanel dalam toko-toko hidroponik pula bervariasi. Mulaid ari 2000 sampai lima ribu buat 10 flanel memanjang seperti yang dipakai pada foto atas ini. Saya dan sahabat berpikir tampaknya akan lebih baik apabila membeli langung pada toko kain. Tentu anda akan menerima kain lembaran yang perlu dipotong sinkron kebutuhan, namun tentu harganya akan lebih murah.

Apakah Flanel bisa digunakan kembali? Ya jikalau hanya buat belajar masih dapat dipergunakan kembali sesudah tumbuhan anda besar & dipanen. Tetapi anda perlu membersihkan residu-residu akar yg ada di kain flanel & keringkan terlebih dahulu agar nutrisi yang terdapat hilang & nir bercampur menggunakan yang baru.

Apa itu Rockwool dalam Hidroponik?

Apa itu Rockwool dalam Hidroponik?

Rockwool merupakan salah satu bahan utama dalam Hidroponik. Rockwool adalah media pertumbuhan peratanian yang terbuat dari batu Basalt dan Kapur. Kedua media ini kemudian dicampur dan dilelehkan dalam panas hingga 1600 derajat celcius. Jadi benar kalau rockwool yang terlihat seperti spon ini berasal dari batu-batuan. Namun stelah dipanaskan dan diolah, bentuknya berubah tidak keras seperti batu lagi.

Rockwool.

Rockwoool nir hanya digunakan dalam bidang pertanian, tapi juga buat hal-hal lain seperti mencegah panas masuk/keluar atau bersifat insulation. Dibawah adalah Video pembuatan Rockwool.

Mengapa digunakan rockwool dalam Hidroponik? Hal ini dikarenakan rockwool dapat menahan air dengan baik (tidak hanya menyerap saja tapi juga mampu menahannya). Struktur Rockwool yang berongga memungkinkan akar tanaman untuk tetap mendapatkan oksigen. Begitu pula strukturnya yang masih padat memungkinkan akar tumbuhan tumbuh disana.

Kekurangan rockwool dari strukturnya adalah dia mudah abrasi, ada sebagian partikelnya yang lepas. Hal ini akan membuat iritasi dan gatal bagi sebagian orang. Karena itu jangan kaget bila anda baru berkenalan denga rockwool, anda akan merasa gatal pada tangan. Rockwooltidak bisa digantikan dengan spon, kassa atau kapas karena tidak dapat menyimpan air dengan banyak dan strukturnya tidak keras sehingga tidak dapat sebagai tempat pijakan akar semaian. Simpanlah rockwool ditemapt yang kering dan tertutup oleh plastik. Bila lembab maka rockwool akan sulit untuk dipotong.

Apakah rockwool mampu digunakan pulang sehabis panen?. Jika sehabis panen, dimana tumbuhan dan akar telah besar , maka rockwool nir mampu digunakan pulang/recycle karena rw (singkatan rockwool) telah menyatu menggunakan bagian akar. Seperti dipandang dalam gambar diatas, akar akan tumbuh dan berkembang semakin akbar semakin poly dalam rockwool. Tetapi bila masih dalam masa semai, akar belum poly misalnya pada gambar diatas, maka rockwool masih sanggup dipakai untuk menyemai balik . Tinggal bubut & buang saja benih yg telah tumbuh tadi.

Sumber gambar

Jenis rockwool yang saya tau ada yang dalam bentuk lembaran dan dalam bentuk kotak seperti gambar paling atas. Untuk ketersediaan di pasar bergantung pada tempat anda membeli. Biasanya tetap dalam bentuk kotak namun dalam ukuran yang berbeda entah memanjang atau kotak saja. Untuk kisaran harga di pasar, dengan ukuran kurang lebih panjang 20cm, tinggi dan lebar 10cm, harganya 10 ribu rupiah. Tapi harga barang-barang hidroponik biasanya sangat bervariasi mulai dari yang murah hingga terlalu mahal. Pandailah memilih jangan langsung beli di satu toko saja.  Untuk ukuran 20cm tadi, sudah bisa untuk menyemai benih selada hingga 70 benih.

Pemotongan rockwool diadaptasi dengan jenis benih, apabila buat selada, sawi dan sayur lainya, mampu dipotong dengan ukuran kotak dua-3 cm. Sedangkan buat tanaman seperti melon membutuhkan berukuran yg lebih besar sampai kotak 5cm.

TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN KOPI

TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN KOPI

Beberapa daerah menjadikan kopi sebagai ciri khas dan ikon yang patut untuk dibanggakan seperti Gayo Mountain Coffee dari dataran tinggi Takengon, Aceh Tengah; Mandheling dan Lintong Coffee dari Sumatera Utara; Java Coffee dari dataran tinggi Ijen, Jawa Timur; Toraja/Kalosi Coffee dari dataran tinggi Toraja, Sulawesi Selatan; Bali Coffee dari dataran tinggi Kintamani, Bali; Flores Coffee dari dataran tinggi Manggarai, Nusa Tenggara Timur; dan Balliem Highland Coffee dari dataran tinggi Jaya Wijaya, Irian Jaya. Di samping itu di Indonesia juga dikenal Kopi Luwak yang dihasilakn dari berbagai daerah pertanaman kopi.

Tanaman kopi merupakan komoditi ekspor yang cukup menggembirakan karena mempunyai nilai ekonomis yang relatip tinggi. Tanaman ini merupakan tanaman perkebunan yang produknya banyak diminati penduduk dunia, termasuk penduduk indonesia.

Tanaman kopi dari menurut benua Afiika, dan bisa tumbuh dimana saja di daerah tropis, kecuali dalam wilayah yang tertalu tinggi dengan temperatur yg sangat dingin. Orang yg pertama memanfaatkan tanaman kopi menjadi bahan minuman adalah bangsa Arab, selanjutnya menyebar secara luas di Timur Tengah lebih kurang tahun 1510, & mulai dikenal di Eropa pada tahun 1615 di Venesia. Masuk ke Indonesia (Jawa) kurang lebih tahun 1696, & telah sebagai tumbuhan perdagangan dari tahun 1699. Bibit kopi yg pertama ditanam tadi menurut jenis kopi varitas typlca yg kini dikenal sebagai kopi Arabika var. Arabika.

Akibat adanya serangan penyakit daun Hemileia vastatrix yang menghacurkan sebagian besar tanaman kopi arabika di Indonesia, pada tahun 1875 di datangkan jenis lain yakni Liberika (salah satu jenlsnya yang bertahan di Indonesia adalah Excelsa) yang dtanggap tahan, namun kenyataanya juga peka. Selanjutnya pada tahun 1900 didatangkan lagi jenis lain, yakni kopi Canephora, yang lebih dikenal dengan nama kopi Robusta.

Pada awal abad ke XX Indonesia adalah produsen kopi yg bermutu baik, yang dikenal menggunakan Java Caffea dari jenis Arabika, namun waktu ini sebagian besar tanaman kopi pada Indonesia (95 %) didominasi oteh jenis kopi Robusta

ASPEK BOTANI

1. Sistimatika

Divisio        : Spermatophyta

Klas            : Dicotyledoneae

Ordo           : Rubiales

Famili         : Rubiaceae

Genus        : Coffea

Spesies      : Coffea arabica

                     C. Canephora

                     C. Liberica

2. Deskripsi Tanaman

Tanaman kopi memiliki akar tunggang lurus ke bawah, pendek dan kuat menggunakan panjang 45 – 50 centimeter, serta mempunyai 4-8 butir akar samping yang tumbuh ke bawah sepanjang 2-tiga m. Sebagian akar samping tumbuh horizontal sepanjang 1-2 m, menyebar pada kedalaman ? 30 cm.

Bentuk percabangan dalam flora kopi terdapat 2 macam:

(1)  Cabang orthotroph, tumbuh tegak atau vertikal, dapat berfungsi menggantikan kedudukan batang, disebut juga cabang air, tunas air, wiwilan.

(2)  Cabang plagiotroph, tumbuh ke samping, horizontal, disebut juga cabang buah, tempat keluar bunga/buah.

Tanaman kopi pula mempunyai dua bentuk mata atau kuncup, yakni:

(1) Mata kuncup atau kuncup reproduksi: terdapat 4 – 5 mata, terletak pada ketiak daun; akan tumbuh sebagai cabang orthotrop, bisa menggantikan batang pokok.

(2) Kuncup legitium atau kuncup tunas primer: hanya ada 1 mata sehingga hanya tumbuh satu kali, terletak pada atas mata reproduksi; tumbuh sebagai cabang plagiotrop, adalah cabang primer, loka tumbuhnya bunga/butir.

Daun berbentuk oval, ujung meruncing hingga bundar . Duduk daun dalam btg/cabang orthotrop berselang seling sedangkan dalam ranting/cabang plagiotrop berada pada satu bidang yg sama.

Bunga/butir timbul dalam cabang utama atau cabang sekunder secara berkelompok. Tiap ketiak terdiri menurut tiga – 4 keiompok, dengan 4 – 6 kuntum per gerombolan . Dari bunga sampai buah 7 – 9 bulan. Buah muda berwarna hijau, setelah tua kuning & berubah merah waktu masak.

1. Pengelompokan jenis

Pada garis besarnya tanaman kopi terdiri menurut 3 jenis/varitas yaitu :

(1)  Kopi Arabika (Coffea arabica), dibedakan lagi menjadi: Jenis Bourbon, Catura, Marago, Pasumah, Congensis,

(2)   Kopi Canephora/Robusta (Coffea canephora), dibedakan lagi penjadi: Denis Congesta, Uganda, Quillo

(3) Kopi Liberika/Excelsa (Coffea liberica), dibedakan lagi menjadi: Jenis Abeokutae, Klainei, Dewevrei. Excelsa, Dybrowskii.

Ciri-ciri generik ketiga jenis tadi menjadi berikut:

Arabika

Robusta

Liberika

Pohon

ramping, tinggi mampu 5 m

tegak ke atas, lebih tinggi dari arabika

akbar, tinggi bisa lebih menurut 10 m

Daun

kecil, halus, & mengkilat

akbar, bergelombang

besar , mengkilat

Cara penyerbukan

sendiri

silang

silang

Umur mulai berbunga

? 4 tahun

? Tiga tahun

? 4 tahun

Pemasakan butir

6 – 8 bulan

8-11 bulan

8-11 bulan

Ukuran butir

lebih besar

lebih mini

akbar, biji kecil

Aroma

kurang tajam

tajam

kurang tajam

Cara perbanyakan

generatif

generatif & vegetatif

generatif & vegetatif

Ketahanan terhadap karat daun

peka

tahan

peka

PERSYARATAN TUMBUH

Tanaman kopi tumbuh baik pada daerah 20° LU sampai 20° LS. Sebagian besar daerah kopi di Indonesia terletak antara 0° – 10° LS (Sumatera Selatan, Lampung, Jawa, Bali, dan Sulawesi Selatan) dan sebagian kecil terletak antara 0° – 5° LU ( Aceh dan Sumatera Utara).

Persyaratan tumbuh Robusta Arabika Liberika Iklim

Kopi Liberika dapat tumbuh pada dataran rendah dan beriklim panas juga basah, nir menuntut tanah yang fertile dan pemeliharaan yang istimewa

Kisaran elevasi

(optimum)

0 -1700 m

(300 – 800 m)

500 – 2000 m

(1000 -1750 m)

Temperatur

21 – 24 ?C

17 ? 21 ?C

Curah hujan

1250 – 2500 mm

1500 – 2250 mm

Tanah

Struktur

baik & gembur

baik & gembur

Kadar bahan. Organik

tiga %

tiga %

Tata udara dan air tanah

baik

baik

Derajat keasaman

5,lima – 6,lima

5,lima – 6,lima

Tanaman kopi memerlukan masa agak kering seiama ? Tiga bulan yg dibutuhkan bagi pembentukan primordia bunga, pembungaan & penyerbukan. Perbedaan tipe curah hujan suatu wilayah akan mensugesti rendemen kopi, dalam daerah yg kering, rendemen kopi umumnya lebih tinggi.

PERSIAPAN LAHAN

Persiapan lahan adalah aktivitas penyediaan loka buat tumbuhan kopi agar dapat tumbuh dengan balk di huma pertanaman.

Lahan yang bisa digunakan sanggup dari berdasarkan huma bukaan baru; bekas flora kopi (peremajaan); bergantian antara tumbuhan kopi menggunakan flora lain (rotasi), dan bekas tanaman lain yang diganti dengan kopi secara permanen (konversi).

Pada dasarnya kegiatan persiapan huma dalam berasal lahan tersebut tidak jauh tidak selaras, mencakup:

1. Pembukaan lahan

Pembukaan lahan bertujuan untuk membersihkan lahan menurut seluruh bagian flora yang telah ada sebelumnya. Biasanya dilakukan menggunakan cara memotong, menebang dan mendongkel seluruh bagian flora, lalu dilanjutkan menggunakan pembersihan residu-residu flora yg ada di bagian atas tanah.

2. Pengajiran dan pembuatan teras

Pengajiran dan pembuatan teras ditujukan buat memperoleh kebun kopi yg baik dan teratur sesuai dengan rencana. Dengan adanya teras maka tanah & air mampu tebih awet penggunaannya sebagai akibatnya tumbuhan dapat tumbuh menggunakan subur. Macam teras & pembuatannya diadaptasi menggunakan kemiringan tanah, dipilih teras bangku, teras individu atau teras guludan.

3. Penanaman tanaman pelindung

Penanaman tanaman pelindung bertujuan untuk melindungi tanaman kopi berdasarkan banyak sekali keadaan yg kurang menguntungkan. Tanaman pelindung harus memenuhi persyaratan menjadi berikut: (1) berakar dalam supaya tidak bersaing pada pengambilan air & unsur hara; (2) percabangan mudah diatur secara bersiklus; (3) ukuran daun nisbi kecil dan nir mudah rontok; (4) nir sebagai flora inang hama & penyakit kopi; (lima) membuat banyak bahan organik; (6) termasuk jenis leguminosae.

Jenis tanaman pelindung terdiri dari pelindung sementara dan pelindung tetap. Pelindung sementara ditanam dalam barisan dengan jarak 2 – 4 m atau mengikuti kontur. Jenis naungan sementara: Flemingia congesta, Crotolaria anagyroides, Tephrosa candida. Naungan sementara ditanam sebetum pelindung tetap dapat berfungsi.

Jenis naungan tetap yang banyak dipakai di Indonesia adalah Leucenia spp, Albizia sp, Erythrina sp, dan Gliricidia. Jarak tanam yang digunakan 2 m x 2,5 m, dan setelah besar diperjarang menjadi 4 m x 5 m (Leucenia) dan 10 m x 10 m (Albizia).

PEMBIBITAN

Bahan flora kopi adalah benih dan entres yg dianjurkan & sanggup diperoleh dari pembuat yang ditunjuk melalui SK Menteri Pertanian. Benih kopi merupakan biji kopi yg memenuhi persyaratan yg asal menurut pohon induk yg dianjurkan, sedangkan entres merupakan bahan flora berupa cabang belia yang dipakai menjadi btg atas dalam penyambungan.

Tanaman kopi robusta dapat diperbanyak secara generatif maupun vegetatif, sedangkan kopi arabika umumnya diperbanyak secara generatif.

1. Perbanyakan generatif

Perbanyakan generatif merupakan perbanyakan tanaman dengan memakai benih yang disemai dalam bedengan pesemaian.

Benih diambil dari kebun  yang diketahui mutunya (produksi tinggi, tahan hama dan penyakit), dari kebun biklonal. Buah dipilih yang masak, bentuk normal, dan tidak cacat. Penyimpanan tidak lebih dari 3 bulan.

Tempat pesemaian dibuat pada huma yang datar, tanahnya gembur, rapikan udara dan tata air baik , dan bebas nematoda dan cendawan akar, Diusahakan dekat menggunakan pembibitan dan daerah pertanaman, serta mudah buat melakukan supervisi.

Tanah dicangkul lalu dibersihkan dari sisa-sisa akar flora dan rumput. Bedengan dibentuk arah Utara-Selatan, lebar 80 – 120 cm, panjang berdasarkan kebutuhan, Bedengan ditinggikan ? 20 cm menggunakan tanah fertile dan gembur, pada atasnya dibubuhi lapisan pasir halus ? Lima centimeter, pingginya diberi resistor dari bambu atau batu bata.

Unuk mencegah nematoda dilakukan fumigasi dengan Vapam (100 mililiter/10 L air) buat setiap m2, lalu ditutup plastik seiama 7 hari, sesudah dibuka dibiarkan selama 7 hari. Bedengan diberi atap/naungan berupa alang-aiang, daun tebu, daun kelapa dsb., tinggi bagian barat 120 centimeter, sebelah timur 180 cm.

Sebelum benih disemai, bedengan disiram air sampai jenuh. Penyemaian benih dilakukan dengan membenamkan benih sedalam ± 0,5 cm dengan jarak antara benih 3 cm x 5 cm, permukaan benih yang rata menghadap ke bawah.  Di atas benih ditutup dengan potongan jerami atau alang-alang kering agar tetlindung dari sengatan matahari atau curahan air siraman. Setiap hari bedengan disiram air (kecuali ada hujan), dengan menggunakan gembor;

Bibit yang telah mencapai stadium kepelan (umur 2,5 – tiga bulan sehabis penyemaian) kemudian dipindahkan ke loka pembibitan. Pembibitan dapat dilakukan pada bedengan tanah atau dalam kantong berukuran 30 x 40 centimeter, lokasi pembibitan dipilih seperti buat pesemaian.

Cara Membuat Pembibitan

a) Bedengan Tanah

Tanah diolah sedalam ? 60 cm, kemudian dibentuk bedengan menggunakan lebar ?120 cm, & panjang sesuai kebutuhan, jeda bedengan ? 30 centimeter. Di atas bedengan dibuat naungan setinggi 2 m dengan kerangka bambu & atap alang-alang/daun kelapa. Bibit kepelan ditanam menggunakan jarak 20 centimeter x 25 cm.

b) Menggunakan kantong plastik (polybag)

Media tanam berupa adonan tanah lapisan atas dan pupuk kandang menggunakan perbandingan 1 : 1. Kantong plastik dilubangi sebesar ? 30 buah, kemudian diisi media sampai setinggi 1,5 -dua cm dari bibir kantong plastik. Kantong plastik disusun secara berderet menggunakan lebar 120 centimeter, panjang sesuai kebutuhan. Bedengan diberi naungan misalnya dalam bedengan tanah.

Pemeliharaan pesemaian

Penylraman dilakukan 2 kali sehari (kecuali ada hujan), penyiangan menurut keperluan, serta pemupukan dengan dosls yang sesuai/sebagai berikut:

Umur (bulan) Dosis (g/m2) Urea TSP KCl 3 10 5 5 5 20 10 10 7 30 15 15 9 40 20 20 12 50 20 20

2. Perbanyakan vegetatif

Perbanyakan vegetatif buat tumbuhan kopi dilakukan menggunakan cara sambungan (okuiasi) dan stek, Hasil perbanyakan vegetatif disebut klon.

Sambungan

Sambungan adatah output penggabungan antara btg bawah dan btg atas (entres) buat menerima bahan tanaman yang seragam, produksi tinggi & daya tahan baik.

Batang bawah yg digunakan mempunyai perakaran & pertumbuhan bertenaga, tumbuhan sehat, umur 8 – 1 2 bulan (diameter minimal 0,7 centimeter). Sedangkan buat batang atas dipilih klon unggul yang berasal berdasarkan kebun entres. Batang entres berupa entres pucuk atau entres cabang, ruas ke 2 – 4 dari pucuk, yg telah berumur ? Tiga bulan.

Batang bawah dipotong dalam ketinggian 20 – 25 cm, lalu dibelah (dibuat celah) sepanjang tiga – 4 centimeter; Batang atas dipotong satu buku menggunakan panjang 7 cm ( 2 centimeter pada atas buku & lima cm di bawah buku), daun dan cabang dipotong (tinggal 1,lima cm dari sumbu entres), buat sayatan misalnya baji sepanjang 3 – 4 centimeter. Masukan entres ke pada celah batang bawah, sebaiknya kambium btg atas dan batang bawah bertemu. Ikat sambungan menggunakan tali pengikat menggunakan hati-hati, kemudian beri sungkup dengan kantung plastik. Dua mlnggu selesainya penyambungan dilakukan inspeksi, sambungan yang berhasil berwarna hijau sedangkan yg gagal berwarna kunfng, buat sambungan yg berhasil, sungkup dibiarkan hingga tunas tumbuh, setelah 3 bulan tali pengikat dibuang; Tunas yang tumbuh menurut batang bawah dibuang, tunas pada btg atas dipilih satu tunas yg tumbuh baik. Pada sambungan yg gagal dapat dilakukan penyambungan ulang menggunakan memotong sedikit batang bawahnya.

Setek

Setek merupakan potongan satu ruas berdasarkan tunas ortotrop (wiwtlan) dengan panjang 7 – 1 0 centimeter. Untuk bahan setek digunakan tunas ortotrop (wiwilan) ruas ke 1 – 3 berdasarkan ujung, panjang 7 – 10 centimeter, mengandung sepasang daun yang dipotong (disisakan ? 4 cm). Media tanam adalah adonan top soil pasir kali (1 : 1) atau pasir kali halus 100 %, serta bebas hama dan penyakit. Setek yang sudah ditanam diberi sungkup, dengan kelembaban 85 ? 90 %, suhu 23 – 26 ?C, intensitas cahaya 30 – 40%. Pada umur 10 – 12 minggu dipindah ke pembibitan/polibag, & siap dipindah ke lapangan dalam umur 8 – 1 0 bulan. (Bersambung)

Hama dan Penyakit Tanaman Karet

Hama dan Penyakit Tanaman Karet

Sebagaimana halnya flora perkebunan lainnya, flora karet tak luput dari gangguan hama dan penyakit. Gangguan hama dan penyakit ini harus ditangani dengan baik supaya tanaman tumbuh subur dan produktivitasnya optimal.

A. Hama

Beberapa jenis fauna menjadi hama tanaman karet menurut fase pembibitan, penanaman, sampai fase berproduksi.

1. Tikus.

Tikus (Rattus sp.) menjadi hama tanaman karet pada fase perkecambahan dan pesemaian. Pada waktu perkecambahan tikus memakan biji-biji yang sedang dikecambahkan dan saat penyemaian memakan daun-daun bibit yang masih muda.

Langkah pencegahan bisa dilakukan dengan melindungi tempat perkecambahan supaya tikus tidak dapat masuk ke dalamnya. Dalam hal ini loka perkecambahan yg berupa kotak sanggup ditutup dengan dawai kasa dan loka perkecam-bahan di atas tanah dipasang pagar plastik.

2. Belalang.

Belalang sebagai hama bagi flora karet dalam fase penyemaian dengan cara memakan daun daun yang masih muda. Serangga ini tergolong sangat rakus. Jika daun muda habis, mereka tak segan-segan memakan daun-daun tua, bahkan tangkainya.

Mengendalikan serangan belalang mampu secara kimiawi dengan menyemprotkan insektisida Thiodan menggunakan dosis 1,5 mililiter/liter air. Penyemprotan dilakukan 1 – dua minggu sekali tergantung dalam intensitas serangannya.

Tiga. Siput.

Siput (Achatina fulicd) menjadi hama karena memakan daun-daun karet di areal pembibitan dengan gejala daun patah-patah. Di daun-daun yang patah ini terdapat alur jalan berwarna keperakan mengkilap yang merupakan jejak siput.

Pengendalian secara mekanis sanggup dilakukan menggunakan cara mengumpulkan siput-siput yg bersembunyi pada tempat teduh dan membakar atau menguburnya. Sementara itu, secara kimiawi dengan membuat umpan berdasarkan adonan dedak, kapur, semen, & Meradex menggunakan perbandingan 16:lima:tiga:dua. Campuran ini dilembabkan dulu menggunakan cara diberi air sedikit kemudian diletakkan di areal pembibitan. Siput yg memakan umpan ini akan tewas.

4. Uret Tanah.

Uret tanah merupakan fase larva dari beberapa jenis kumbang, seperti Helotrichia serrata, Helotrichia rufajlava, Helotrichiafessa, Anomala varians, Leucopholis sp., Exopholis sp., dan Lepidiota sp. Bentuk uret tanah ini seperti huruf “C” dengan warna putih hingga kuning pucat. Uret tanah menjadi hama yang sangat merugikan karena memakan bagian tanaman karet yang berada di dalam tanah, terutama tanaman karet yang masih berada di pembibitan.

Mencegah serangan hama ini bisa dilakukan dengan menaburkan Furadan tiga G sesuai menggunakan takaran yg danjurkan pada ketika menyiapkan areal pembibitan. Sementara itu, pengendaliannya sanggup secara mekanis atau kimiawi. Secara mekanis dengan mengumpulkan uret-uret tadi & membakarnya. Secara kimiawi dengan menaburkan Furadan 3 G, Diazinon 10 G, atau Basudin 10 G di sekitar pohon karet. Dosis yang dipakai kurang lebih 10 gram/pohon.

5. Rayap.

Rayap yang menjadi hama bagi tanaman karet, terutama spesies Microtermes inspiratus dan Captotermes curvignathus. Rayap-rayap tersebut menggerogoti bibit yang baru saja ditanam di lahan, dari ujung stum sampai perakaran, sehingga menimbulkan kerusakan yang sangat berat.

Pengendaliannya mampu dengan kultur teknis, mekanis, dan kimiawi. Secara kultur teknis ujung stum sampai sedikit di atas mata dibungkus plastik supaya rayap nir memakannya. Secara mekanis dilakukan dengan menancapkan umpan berupa 2 – 3 btg singkong menggunakan jeda 20 – 30 centimeter berdasarkan bibit, sebagai akibatnya rayap lebih senang memakan umpan tersebut daripada bibit karet yg lebih keras.

Pengendalian secara kimiawi mampu dilakukan menggunakan menyemprotkan insektisida pembasmi rayap, seperti Furadan 3 G dengan takaran 10 gr ditaburkan di sekitar batang karet. Bisa jua memakai Agrolene 26 WP atau Lindamul 250 EC dengan dosis dan frekuensi pemakaian bisa dibaca pada kemasannya.

6. Kutu.

Kutu tanaman yang menjadi hama bagi tanaman karet adalah Saissetia nigra, Laccifer greeni, Laccifer lacca, Ferrisiana virgata, dan Planococcus citri yang masing-masing memiliki ciri berbeda. Saissetia berbentuk perisai dengan warna cokelat muda sampai kehitaman. Laccifer berwarna putih lilin dengan kulit keras dan hidup berkelompok. Ferrisiana berwarna kuning muda sampai kuning tua dengan badan tertutup lilin tebal. Sementara itu, Planococcus berwarna cokelat gelap dan badannya tertutup semacam lilin halus mengilap. Kutu tersebut menjadi hama bagi tanaman karet dengan cara menusuk pucuk batang dan daun muda untuk mengisap cairan yang ada di dalamnya. Bagian tanaman yang diserang berwarna kuning dan akhirnya mengering, sehingga pertum-buhan tanaman terhambat.

Hama lain yang tak jarang menghambat tumbuhan karet, khususnya yg berada di pinggir hutan diantaranya: Babi hutan, Rusa, Kijang, Tapir, Monyet, Tupai dan Gajah.

B. Penyakit

Kerugian ekonomi yang disebabkan oleh serangan penyakit dalam flora karet umumnya lebih akbar dibandingkan menggunakan serangan hama. Selain karena kerusakan akibat agresi penyakit, kerugian lain merupakan besarnya porto yg harus dimuntahkan buat menanggulanginya. Karenanya, upaya pencegahan wajib menerima perhatian penuh, serta pengamatan dini secara monoton sangat penting.

Penyakit dalam flora karet dengan kerugian akbar umumnya ditimbulkan oleh cendawan. Penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri & virus kerugiannya nir begitu besar . Penyakit tanaman karet menyerang dari wilayah akar, btg, bidang sadap, sampai daun.

1. Penyakit Akar Putih.

Disebut dengan penyakit akar putih karena di akar tanaman yang terserang terlihat miselia jamur berbentuk benang berwarna putih yang menempel kuat dan sulit dilepaskan. Akar tanaman yang terinfeksi akan menjadi lunak, membusuk, dan berwarna cokelat. Cendawan penyebab penyakit akar putih adalah Rigidoporus lignosus yang membentuk badan buah seperti topi di akar, pangkal batang, dan tunggul tanaman. Badan buah cendawan ini berwarna jingga kekuningan dengan lubang-lubang kecil di bagian bawah tempat spora. Jika sudah tua, badan buah tersebut akan mengering dan berwarna cokelat.

Gejala-gejala lain agresi penyakit akar putih tampak menurut memucatnya daun-daun menggunakan tepi ujungnya terlipat ke dalam. Daun-daun tersebut selanjutnya gugur dan ujung rantingnya mati. Sebagai upaya mempertahankan diri, tumbuhan yang sakit akan menumbuhkan daun, bunga, dan butir sebelum waktunya. Memastikan secara dini tumbuhan karet terserang penyakit akar putih atau nir, mampu dilakukan inspeksi tajuk & akar menggunakan donasi mulsa.

Akar putih termasuk penyakit berbahaya bila dipandang dari dampak yang ditimbulkannya. Prevalensi agresi penyakit tertinggi terjadi dalam tanaman muda berumur dua – 4 tahun, meskipun bisa pula menyerang tumbuhan berumur enam tahun. Serangan dalam umur 3 tahun sanggup menyebabkan kematian dalam waktu enam bulan semenjak terinfeksi dan pada umur enam tahun mengakibatkan kematian setelah setahun terjangkit. Infeksi penyakit akar putih terjadi lantaran persinggungan akar sehat menggunakan sisa-sisa akar tumbuhan lama yg mengandung spora cendawan ini.

Penyebarannya bisa dengan donasi angin yangmenerbangkan spora ini. Spora yang jatuh di tunggul atau residu flora yg mangkat akan menciptakan koloni. Dari tunggul ini fungi menjalar ke akar & akhirnya menginfensi akar-akar sehat di sekitarnya.

2. Penyakit Akar Merah.

Jika penyakit akar putih cenderung menyerang tanaman muda (berumur 2 ? 4 tahun), penyakit akar merah justru lebih poly menyerang tumbuhan dewasa atau bahkan yang mulai menua. Meskipun berbahaya, kematian tumbuhan baru terjadi 5 tahun setelah terinfeksi. Gejala yg bisa dicermati menurut serangan penyakit ini adalah terjadinya perubahan warna daun dari hijau menjadi hijau pucat suram, menguning, & akhirnya berguguran.

Disebut menggunakan penyakit akar merah lantaran apabila tanah pada daerah perakaran flora yang sakit dibongkar akan terlihat miselia fungi berwarna merah muda hingga merah tua pada akar-akarnya. Miselia tadi melekat sangat erat & mengikat butiran tanah, sebagai akibatnya menjadi seperti berkerak. Jika telah kering, miselia tadi akan berwarna putih, tetapi jika dibasahi dengan air akan pulang berwarna merah. Infeksi terjadi jika akar tumbuhan sehat bersentuhan menggunakan akar tanaman sakit atau akar yang mengandung spora cendawan penyebab penyakit akar merah. Infeksi pula terjadi bila spora jatuh di leher akar karena tiupan angin.

Pencegahan dan pengendalian penyakit ini sama dengan pencegahan & pengendalian penyakit akar putih.

Penyakit yang menyerang batang

1. Jamur Upas.

Penyakit jamur upas disebabkan oleh cendawan Corticium salmonicolor yang memiliki empat tingkat perkembangan. Tahap pertama atau sering disebut dengan tahap sarang laba-laba adalah terbentuknya lapisan tipis berwarna putih di permukaan kulit. Tahap selanjutnya akan berkembang membentuk sekumpulan benang jamur, biasa disebut dengan tahap bongkol. Pada tahap ketiga atau tahap kortisium, terbentuk lapisan kerak berwarna merah muda. Tahap terakhir atau tahap nekator adalah terbentuknya lapisan tebal berwarna merah tua.

Penyakit fungi upas menyerang percabangan atau btg flora, sebagai akibatnya cabang dan tajuk mudah patah. Gejala penyakit ini adalah munculnya benang-benang berwarna putih misalnya sutera pada pangkal atau bagian atas percabangan. Dalam perkembangannya, benang-benang tadi membentuk lapisan kerak berwarna merah dan akhirnya menjadi lapisan tebal berwarna merah tua. Batang yang terinfeksi akan mengeluarkan cairan lateks berwarna cokelat kehitaman yg meleleh pada permukaan batang tumbuhan. Lama-kelamaan kulit tanaman yang terinfeksi akan membusuk, berwarna hitam, mengering, & mengelupas. Bagian kayu pada bawah kulit akan rusak & menghitam. Pada agresi yg lebih parah, tajuk percabangan akan meninggal dan mudah patah sang tiupan angin.

2. Kanker Bercak.

Penyakit kanker bercak muncul akibat infeksi jamur Phytophthora palmivora yang memiliki benang-benang hifa berwarna putih yang kurang jelas dilihat dengan mata telanjang. Jamur ini berkembang biak dengan spora yang bisa bertahan hidup lama di dalam tanah.

Gejala serangan penyakit ini tidak mudah dikenali karena serangannya dimulai menurut bawah kulit. Kulit yang sakit baru terlihat apabila dilakukan pengerokan kulit batang atau kulit cabang, yaitu adanya warna cokelat kemerahan menggunakan bercak-bercak akbar meluas ke samping, kambium, & bagian kayu. Bagian yg sakit umumnya mengeluarkan cairan lateks berwarna cokelat kemerahan dengan bau busuk. Kadang-kadang terjadi pengumpulan lateks di bawah kulit, sehingga menciptakan kulit btg pecah dan membuka. Di bagian terbuka tadi sering dimasuki serangga penggerek btg. Penyakit ini menimbulkan kerusakan dalam kulit batang pada luar bidang sadap atau kulit percabangan, sehingga flora akan merana & akhirnya mangkat . Penyakit ini lebih poly menyerang tanaman karet di kebun-kebun berkelembaban tinggi atau terletak pada wilayah beriklim basah.

Angin dan hujan bisa menjadi sarana penyebaran penyakit ini. Angin menerbangkan spora & percikan air hujan pada tanah dekat flora mampu memindahkan spora dari tanah ke batang tumbuhan sehat. Agar pengendalian penyakit bisa dilakukan sedini mungkin, selama isu terkini hujan seminggu sekali wajib dilakukan pemeriksaan tanaman .

3. Busuk Pangkal Batang.

Cendawan Botrydipbdia theobromae adalah biang keladi penyakit busuk pangkal batang. Jamur ini memiliki badan buah penghasil spora dalam jumlah banyak yang terdapat di kulit batang yang terinfeksi. Spora akan menyebar karena angin atau hujan untuk menginfeksi tanaman sehat.

Penyakit busuk pangkal batang lebih acapkali menyerang tanaman karet belia yang siap disadap, yaitu tanaman berumur empat tahun menggunakan prevalensi mencapai 66%. Pada flora berumur tiga tahun, prevalensi agresi mencapai 30% & dalam tumbuhan berumur lebih berdasarkan lima tahun kemungkinannya 0%. Munculnya penyakit busuk pangkal btg dipicu oleh syarat tanaman yg jelek dampak kekurangan air lantaran kering yg berkepanjangan atau tumbuhan terluka sang alat-indera pertanian. Spora cendawan akan berkembang pada kelembaban tinggi & suhu udara rendah.

Gejala agresi penyakit busuk pangkal batang relatif sulit dikenali, sehingga dibutuhkan ketelitian atau kecermatan. Di pangkal btg kulit terlihat kering & pecah-pecah, padahal kayu pada bagian atasnya masih utuh dan baik. Lama-kelamaan kulit pecah-pecah tadi menghitam, bagian kayu rusak, dan menjalar ke atas. Bagian yang rusak dan terlihat seperti terbakar tadi tingginya mencapai satu meter atau lebih mampu menyebabkan tumbuhan gampang patah lantaran tidak bertenaga menyangga tajuk.

Penyakit yang menyerang bidang sadap

1. Kanker Garis.

Cendawan penyebab penyakit kanker garis sama dengan biang keladi kanker bercak, yakni Phytophthora palmivora. Infeksi cendawan ini mengakibatkan kerusakan berupa benjolan-benjolan atau cekungan-cekungan di bekas bidang sadap lama, sehingga penyadapan berikutnya sulit dilakukan. Penyakit ini umumnya berjangkit di kebun-kebun berkelembaban tinggi, terletak di wilayah beriklim basah, serta di kebunkebun yang penyadapannya terlalu dekat dengan tanah.

Gejala serangan penyakit kanker garis bisa dilihat berdasarkan adanya selaput tipis putih & tidak begitu jelas menutup alur sadap. Apabila dikerok atau diiris, di bawah kulit yang terletak pada atas irisan sadap terlihat garis-garis tegak berwarna cokelat kehitaman. Dalam perkembangannya, garis-garis ini akan menyatu membentuk jalur hitam yang tampak misalnya retakan membujur pada kulit pulihan. Pada beberapa kasus, pada bawah kulit yang baru pulih akan terbentuk gumpalan lateks yang mampu mengakibatkan pecahnya kulit. Dari pecahan kulit ini akan keluar tetesantetesan lateks berwarna cokelat yang berbau busuk. Lantaran rusak, pemulihan kulit akan terhambat. Agar pengendalian penyakit mampu dilakukan sedini mungkin, perlu dilakukan pemeriksaan yang cermat pada semua flora setiap hari sadap selama demam isu hujan.

Usaha-usaha yang mampu dilakukan buat pencegahan penyakit ini menjadi berikut.

– Penyadapan jangan terlalu pada & tidak terlalu dekat menggunakan tanah.

– Sebelum digunakan pisau sadap diolesi fungisida Difolatan 4 F 1 % atau Difolatan 80 WPl %.

Pengendaliannya sanggup dilakukan dengan mengoleskan fungisida Difolatan 4 F dua%, Difolatan 80 WP 2%, Demosan 0,5%, atau Actidione 0,lima % di jalur selebar lima?10 cm pada atas & pada bawah alur sadap menggunakan kuas segera sehabis dilakukan penyadapan atau paling baik sehabis pemungutan lateks yg belum membeku. Setelah sembuh, bidang sadap ditutup dengan Secony CP 2295 A.

Dua. Mouldy rot.

Penyebab penyakit mouldy rot adalah cendawan Ceratocystis jimbriata dengan benang-benang hifa yang membentuk lapisan berwarna kelabu di bagian yang terserang. Spora banyak dihasilkan di bagian tanaman yang sakit dan bisa bertahan lama dalam kondisi kering. Akibat yang ditimbulkan penyakit ini sarat dengan kanker garis, yaitu menimbulkan luka-luka di bidang sadap, sehingga pemulihan kulit menjadi terganggu. Luka-luka tersebut meninggalkan bekas bergelombang di bidang sadap, sehingga menyulitkan penyadapan berikutnya. Bahkan, dalam beberapa kasus bidang sadap menjadi rusak, sehingga tidak bisa dilakukan penyadapan lagi.

Penyakit ini gampang berjangkit dalam trend hujan, terutama pada daerah-wilayah berkelembaban tinggi & beriklim basah. Penyadapan yang terlalu dekat menggunakan tanah jua mampu memicu agresi penyakit ini. Penularan penyakit ini melalui spora yg diterbangkan angin, sehingga jangkauan penyebarannya sebagai luas. Penularan bisa pula melalui pisau sadap yang baru saja dipakai menyadap tumbuhan yang sakit.

Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan munculnya selaput tipis berwarna putih di bidang sadap pada dekat alur sadap. Dalam perkembangannya, selaput tadi membentuk lapisan misalnya beledu berwarna kelabu sejajar alur sadap. Jika lapisan ini dikerok akan terlihat bintik-bintik berwarna cokelat atau hitam. Lebih lanjut, agresi ini akan meluas ke kambium dan bagian kayu. Serangan dikategorikan telah parah jika bagian yg sakit terlihat membusuk berwarna hitam kecokelatan. Bekas agresi tersebut akan membangun cekungan berwarna hitam misalnya melilit sejajar alur sadap.

Pencegahannya sanggup dilakukan menggunakan cara sebagai berikut.

– Jarak tanam jangan terlalu rapat & tumbuhan epilog tanah rutin dipangkas agar kebun nir

lembab.

– Kegiatan penyadapan jangan terlalu sering dan apabila perlu waktu agresi menghebat aktivitas

penyadapan dihentikan.

– Sebelum penyadapan, pisau yg akan dipakai dicelupkan ke larutan Difolatan 4 F 1% atau

Difolatan 80 WP 1%.

Tiga. Brown Blast.

Penyakit brown blast bukan disebabkan sang infeksi mikroorganisme, melainkan karena penyadapan yang terlalu tak jarang, apalagi apabila disertai penggunaan bahan perangsang lateks. Penyakit ini pula acapkali menyerang tanaman yg terlalu fertile, dari berdasarkan biji, & tanaman yg sedang membangun daun baru.

Gejala penyakit ini bisa dipandang dengan tidak mengalirnya lateks menurut sebagian alur sadap. Beberapa minggu kemudian semua alur sadap sebagai kering & nir mengeluarkan lateks. Bagian yang kemarau berubah rona menjadi cokelat lantaran terbentuk gum (blendok). Kulit sebagai pecah-pecah & pada batang terjadi pembengkakan atau tonjolan.

Penyakit ini berbahaya lantaran bisa menurunkan produktivitas lateks dalam jumlah yang cukup signifikan karena alur sadap mengering, sebagai akibatnya nir sanggup mengalirkan lateks. Meskipun tidak mematikan dan tidak menular ke flora lain, penyakit ini mampu meluas ke kulit yg seumur pada flora yang sama. Agar penyakit ini terdeteksi sejak dini, perlu dilakukan inspeksi tumbuhan setiap hari, terutama di kebun-kebun yang disadap dengan intensitas terlalu tinggi.

Beberapa upaya pengendalian yang sanggup dilakukan sebagai berikut.

–  Jangan melakukan penyadapan terlalu sering dan dianjur-kan mengurangi penggunaan bahan

perangsang lateks, terutama dalam klon-klon yang peka terhadap brown blast, seperti PR 255,

PR 261, & BPM 1.

–  Tanaman yang kulitnya tidak bisa disadap lagi sebaiknya tidak disadap .

Penyakit yg menyerang daun

1. Colletotrichum.

Penyakit colletotrichum disebabkan oleh cendawan Colletotrichum gloeosporoides dengan gejalagejala berupa daun belia tampak lemas berwarna hitam, keriput, bagian ujung mati, menggulung, dan akhirnya berguguran. Sementara itu, serangan pada daun tua memperlihatkan gejala-gejala adanya bercak cokelat atau hitam, berlubang, mengeriput, & sebagian ujungnya mati sehingga pertumbuhan flora terhambat.

Serangan penyakit ini biasanya terjadi di perkebunan yang tanamannya baru saja membentuk daun-daun belia, biasanya dalam musim hujan. Kebun-kebun yg terletak di loka tinggi dengan curah hujan tinggi juga mudah terserang penyakit ini. Penyebaran penyakit ini terjadi melalui spora yang diterbangkan oleh angin atau hujan. Penyebaran spora ini umumnya terjadi dalam malam hari, terutama waktu hujan turun.

Beberapa bisnis pencegahan yang sanggup dilakukan sebagai berikut.

– Mempercepat pembentukan daun-daun muda menggunakan pemupukan intensif, dimulai menurut munculnya

kuncup sampai daun sebagai hijau.

– Pemeriksaan flora wajib dilakukan sedini mungkin supaya bila terjadi agresi segera bisa

dikendalikan lebih cepat.

Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan menggunakan menyemprotkan fungisida Dithane M 45 0,25%, Manzate M 200 0,2%, Cobox 0,5%, & Capravit 0,5% seminggu sekali selama 5 kali. Penggunaan Cobox & Capravit jangan dilakukan waktu penyadapan karena sanggup menurunkan mutu lateks.

2. Phytophthora.

Phytophthora tergolong penyakit daun, namun gejalanya justru terlihat pada buah yang berwarna hitam & lalu membusuk. Dari bagian ini penyakit akan menular ke daun & tangkainya, sehingga beberapa minggu kemudian daun & tangkai tadi gugur. Daun yg berguguran tetap berwarna hijau, tetapi di sepanjang tangkainya terdapat bercak-bercak hitam & gumpalan lateks.

Cendawan Phytopthora botriosa atau Phytopthora palmivora adalah penyebab penyakit ini. Spora cendawancendawan ini banyak terdapat di pucuk tanaman, tetapi bisa juga bertahan di daun yang gugur atau di dalam tanah. Penyakit ini umumnya berjangkit pada musim hujan dengan penularan melalui spora yang dibawa air hujan atau angin.

Pencegahan penyakit phytopthora mampu dilakukan menggunakan tidak menanam klon-klon yg peka terhadap penyakit ini, misalnya PB 86, PRIM 600, Tjir 1, atau PR 107. Pencegahan lain sekaligus pengendaliannya dilakukan menggunakan menyemprotkan fungisida Cobox atau Cupravit menggunakan takaran dan frekuensi yg sanggup dibaca di kemasannya. Penyemprotan sebaiknya menggunakan mist blower.

Tiga. Corynespora.

Penyebab penyakit corynespora adalah cendawan Corynespora casssiicola dengan hifa berwarna hitam pucat yang kurang jelas terlihat di permukaan daun. Cendawan ini mempunyai inang yang banyak, seperti singkong, akasia, angsana, dan pepaya. Mula-mula penyakit ini diketahui berjangkit di perkebunan karet di Malaysia pada tahun 1960. Dari Malaysia, penyakit ini menyebar ke India pada tahun 1961 dan pada tahun 1969 kedapatan menyerang perkebunan karet di Nigeria. Pada tahun 1980 penyakit ini masuk ke Sumatera Utara, tahun 1982 ke Jawa Tengah, dan 1984 ke Jawa Barat.

Penyebaran penyakit ini melalui spora yg terbawa terbang sang angin. Meskipun serangannya mampu dikatakan lambat, penyakit ini dipercaya sebagai salah satu penyakit yg berbahaya.

Gejala agresi penyakit ini tampak berdasarkan daun belia yg berbercak hitam seperti menyirip, lemas, pucat, ujungnya mangkat , & akhirnya menggulung. Serangan dalam daun tua pula menerangkan tanda-tanda berbercak hitam dan menyirip. Bercak ini akan meluas sejajar urat daun & kadang-kadang tidak teratur. Pusat bercak berwarna cokelat atau kelabu, kering, & berlubang. Daun-daun tadi menjadi kuning, cokelat kemerahan, dan akhirnya gugur.

Pengendalian penyakit ini bisa dilakukan menggunakan fungisida Mankozeb dan Tridemorf menggunakan dosis dan interval tertera pada labelnya, terutama buat tanaman yang belum disadap. Sementara itu, buat flora yang telah disadap dan tingginya lebih menurut delapan meter usahakan dilakukan pengabutan menggunakan Tridemorf atau Calixin 750 menggunakan dosis 500 mililiter/ hektar, seminggu sekali selama tiga – 4 minggu.

4. Helminthosporium.

Cendawan Helminthosporium heveae dengan hifa berwarna putih dan spora berwarna cokelat merupakan penyebab penyakit ini. Penyakit helminthosporium yang juga kerap disebut dengan penyakit mata burung ini sering menyerang tanaman muda di pesemaian atau pembibitan, sehingga mengakibatkan pertumbuhan terhambat dan waktu okulasinya pun terhambat.

Serangan penyakit ini tak jarang terjadi dalam isu terkini kemarau, terutama dalam tanaman yang terlalu banyak dipupuk nitrogen, kondisi lemah, & kekurangan air. Penyebaran penyakit helminthosporium melalui spora yang diterbangkan angin, terbawa hujan, atau alat-indera pertanian mengandung spora yg tentang tumbuhan sehat.

Gejala infeksi penyakit ini merupakan daun-daun belia menjadi hitam, menggulung, dan lalu gugur.

Manfaat menggunakan sistem wick dengan Sterofoam dibanding botol

Manfaat menggunakan sistem wick dengan Sterofoam dibanding botol

Pemula pehidroponik umumnya menggunakan sistem wick menggunakan botol terlebih dahulu. Baru setelah mengenal hidroponik lebih jauh, & mengenal indera-alatnya, mereka mulai menggunakan sistem yang lebih baik seperti menggunakan sistem wick menggunakan sterofoam.

Artikel kali ini merupakan hasil pegalaman saya sendiri yang  memulainya dengan menggunakan botol aqua yang tembus pandang, berganti ke botol mizone berwarna biru yang tidak tembus cahaya, dan saat ini saya menggunakan sistem wick berbasis sterofoam.

1. Menggunakan sistem wick berbasis botol Aqua

Botol aqua inilah yg paling gampang ditemukan disekeliling kita, sehingga memudahkan buat bertanam hidroponik. Bahannya hanya botol aqua, flanel & rockwool (lebih lengkap bisa anda lihat disini). Kelebihan menggunakan botol aqua adalah murah, terdapat dimana-mana gampang ditemukan, dapat melihat akar flora. Kekurangan penggunaan botol aqua merupakan mudah berlumut lantaran cahaya surya gampang tembus kedalam botol & botolnya kurang bertenaga-mudah bengkok/tertekuk.

2. Menggunakan sistem wick berbasis botol Mizone

Setelah mengamat-amati, saya kira menggunakan botol mizone berwarna biru mungkin akan lebih baik lantaran terlihat lebih kokoh botolnya daripada botol aqua. Dan ternyata sahih, menggunakan botol mizone ini lebih baik daripada botol aqua biasa. Kelebihan: lantaran berwarna biru, cahaya mentari kurang bisa tembus kedalam cairan sehingga cairan nir gampang berlumut. Botol juga lebih kuat nir gampang melengkung. Kelemahan: karena tutup botol mizone lebar, anda nir sanggup pribadi membaliknya. Anda wajib melubangi tutup botol menjadi jalan keluar akar. Pada botol aqua, anda tinggl membuang tutup botolnya dan jadi lubang akar (lantaran tutup botol aqua tidak akbar). Untuk ukuran akar antara botol aqua biasa dengan mizone sama saja. Perbedaan aku kira hanya sedikit lebih baik dengan botol mizone.

3. Menggunakan sistem wick berbasis Sterofoam.

Sebenarnya sistemnya tetap sama memakai sistem wick, tapi berbeda dari ketersediaan ruang buat akar tumbuhan. Bila dalam sistem botol ruang yg tersedia buat akar & cairan nutrisi sangat terbatas, maka dalam sistem wick sterofoam ini sangat luas. Bahkan lebih luas daripada mengunakan sistem nft. Hal ini ternyata memang berpengaruh pada pertumbuhan akar & tumbuhan sendiri. Akar tanaman jadi lebih cepat banyak dan akbar sehingga pertumbuhan tanamanpun semakin cepat besar . Kelebihan wick dengan sterofoam: Akar mampu mengembang lebih luas, lebih cepat besar tanamannya, air dalam sterofoam nir panas lantaran sterofoam tidak mengantarkan panas tidak sama menggunakan botol. Kekurangan: penggunaan air nutrisi jauh lebih boros lantaran membutuhkan air menggenang dengan jumlah banyak, jadi boros apabila nir sanggup menjaga kebersihan air didalamnya, harga sterofoam Lebih mahal dibandingkan dengan harga botol. Satu sterofoam lengkap tadi berkisar antara 10.000 sampai 15.000 rupiah. Sedangkan satu botol bekas harganya hanya 200-300 rupiah.

Hasil sterofoam lebih rupawan daripada botol

Posted in: botol, Hidroponik, Sistem wick, sterofoam

Jenis Teh dan Manfaatnya

Jenis Teh dan Manfaatnya

Teh adalah minuman penyegar yang sangat disukai oleh hampir semua penduduk dunia & telah dijadikan minuman sehari-hari Selain sebagai minuman penyegar, teh sudah usang diyakini mempunyai banyak khasiat bagi kesehatan tubuh.

Teh dihasilkan dari pengolahan pucuk daun teh (Camellia sinensis). Tanaman ini tumbuh subur di daerah subtropik dan tropik dengan menuntut cukup sinar matahari dan hujan sepanjang tahun. Tanaman teh yang tumbuh di Indonesia sebagian besar merupakan varietas Asamica yang berasal dari India. Teh jenis ini berpotensi untuk dikembangkan menjadi produk olahan pangan/minuman fungsional.

Daun teh yang baru dipetik mengandung air 75 % dari berat daun dan sisanya berupa padatan dan terdiri dari bahan bahan organik dan anorganik.  Bahan organik yang penting dalam pengolahan antara lain polifenol, karbohidrat dan turunannya, ikatan nitrogen, pigmen, enzim dan vitamin. Menurut Bambang (1994), bahan-bahan kimia dalam daun teh dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok besar, yaitu:

a)      Substansi fenol : tanin / katekin, flavanol

b)      Sustansi bukan fenol : resin, vitamin, serta substansi mineral

c)       Substansi aromatis : fraksi karboksilat, fenolat, karbonil, netral bebas karbonil (sebagian besar terdiri atas alkohol).

d)      Enzim : Invertase, amilase, _-glukosidase, oximetilase, protease, dan peroksidase.

Keempat gerombolan tadi bersama-sama mendukung terjadinya sifat-sifat yang baik dalam teh. Jadi bila pengendalian selama proses pengolahan bisa dilakukan dengan tepat, , maka akan diperoleh produk yang bermutu tinggi.

Senyawa-senyawa yang terkandung pada daun teh ternyata juga memiliki poly manfaat bagi kesehatan. Tanin (katekin) mengurangi keluarnya kanker dan tumor, menurunkan kadar kolesterol darah, tekanan darah tinggi dan kadar gula dalam darah, membunuh bakteri & virus influenza, dan melawan bakteri penyebab plak. Kafein memiliki kegiatan antioksidan dan mengurangi kelelahan, impak deuretiknya sedang. Vitamin C membantu mengurangi stress, melawan influenza dan sebagai antioksidan. Polifenol memiliki impak astringent, membunuh bakteri disentri, difteri & kolera. Flavanoid menguatkan pembuluh darah, mencegah holitosis.

Perbedaan kelompok dan penamaan teh dilakukan berdasarkan cara pemrosesan teh tersebut sebelum dan setelah dipetik dari pohon. Zat-zat yang terdapat dalam teh sangat mudah teroksidasi. Bila daun teh terkena sinar matahari, maka proses oksidasi pun terjadi. Adapun jenis teh yang umumnya dikenal dalam masyarakat adalah teh hijau, teh Oolong (misalnya teh Jawa Oolung/Ulung), teh hitam dan teh putih. Di Indonesia terdapat satu jenis teh lain yang sangat populer yakni teh melati (teh wangi).

Teh Putih (White Tea)

Merupakan jenis teh yang tidak mengalami proses fermentasi. Pada saat proses pengeringan dan penguapan juga dilakukan sangat singkat. Teh Putih diambil hanya dari daun teh pilihan yang dipetik dan dipanen sebelum benar-benar mekar. Disebut teh putih karena ketika dipetik kuncup daunnya masih ditutupi seperti rambut putih yang halus. Teh putih kurang dikenal, tapi tak membuatnya kurang sehat, karena diproduksi lebih sedikit, harganya juga lebih mahal. Karena proses yang lebih singkat ini kandungan katekin pada teh putih adalah yang tertinggi untuk menangkal radikal bebas lebih ampuh dibanding teh lainnya serta berfungsi sebagai antioksidan dalam tubuh. Teh putih terkenal sebagai dewa dewinya teh karena diambil dari kuncup daun terbaik dari setiap pohonnya.

Teh putih, khususnya ekstrak teh putih terbukti bisa memperlambat pertumbuhan bakteri yang mengakibatkan infeksi Staphylococcus, infeksi Streptococcus, pneumonia, dan karies gigi, dan mempertinggi fungsi sistem kekebalan tubuh.

Teh Hijau ( Green Tea )

Teh jenis ini banyak dikonsumsi masyarakat China dan Jepang. Teh hijau adalah jenis teh yang juga tidak mengalami proses fermentasi akan tetapi mengalami proses pengeringan dan penguapan daun yang sedikit lebih lama dibandingkan teh putih.  Semua jenis teh mengandung katekin, akan tetapi saat ini teh hijau lebih populer karena kandungan katekinya lebih tinggi dibandingkan dengan teh hitam.  Kandungan EGCG (epigalokatekin galat), senyawa bioaktif dalam teh hijau yang lebih tinggi dari jenis teh yang lain, membuat rasa teh menjadi pahit dan sepat. Manfaat EGCG adalah mempercepat oksidasi lemak jahat sehingga tidak menyumbat pembuluh darah. Secara tidak langsung teh hijau efektif mencegah hipertensi dan penyakit jantung koroner.

Antioksidan poliferol pada teh hijau juga lebih tinggi dibandingkan jenis teh yg lain. Hal ini terlihat berdasarkan rona kekuningan air yg diseduh menggunakan teh hijau. Tingginya poliferol dalam teh hijau mampu menangkal radikal bebas yg mengakibatkan penurunan daya tahan tubuh, mencegah berbagai penyakit & penuaan dini. Oleh karenanya, teh hijau dipercaya menjadi galat satu resep kecantikan.

Teh Oolong ( Oolong Tea )

Disebut menjadi teh semi fermentasi. Nama oolong diambil dari sebuah nama laki-laki Cina yakni Wu Long atau Oolong. Pria ini menemukan teh oolong secara tidak sengaja waktu daun teh yang dipetiknya ditinggalkan demi mengejar seekor kijang. Ketika balik , teh itu sudah terfermentasi. Legenda lain menjelaskan bahwa oolong dalam bahasa Cina berarti naga hitam, karena daunnya seperti naga hitam mini yang datang-datang terbangun ketika diseduh.

Seperti halnya teh yang lain, teh oolong jua memiliki khasiat sehat yang bisa membantu kinerja pencernaan, mengobati sakit ketua. Bahkan dalam penelitian terbaru terhadap teh oolong menampakan bahwa teh ini efektif mengontrol kadar kolesterol dan membantu menurunkan kadar gula.

Teh Hitam ( Black Tea )

Teh hitam atau sering juga dikenal dengan nama teh merah adalah daun teh yang mengalami proses fermentasi paling lama sehingga warnanya sangat pekat dan aromanya paling kuat. Teh hitam merupakan jenis teh yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat di dunia (khususnya oleh bangsa Inggris). Teh Hitam lebih dipercaya memberikan banyak manfaat seperti meningkatkan konsentrasi dan mencegah kantuk.

Secara kimia, perbedaan yang paling menonjol merupakan perbedaan kandungan komposisi senyawa polyfenol. Pada proses pengolahan teh hitam, dan teh Oolong, sebagian katekin berubah menjadi theaflavin, thearubigin, & theanaphtoquinone. Sejumlah penelitian menyatakan bahwa theaflavin lebih potensial dari pada katekin, Theaflavin hanya terdapat pada teh hitam atau teh yg sudah mengalami oksimatis. Indonesia sendiri saat ini tercatat sebagai produsen teh terbanyak nomor 5 pada dunia. Namun teh hitam Indonesia menurut penelitian, mengandung theaflavin yang lebih tinggi dibandingkan Jepang maupun China. Dengan demikian, jika kita meminum teh hitam asli Indonesia, kesamaan mencegah penyakit jantung koroner semakin tinggi.

Teh Melati (Jasmine Tea)

Teh melati atau dianggap jua teh wangi, sangat populer pada Indonesia, yaitu Teh Hijau yg dicampur menggunakan bunga melati dan bunga gambir sehingga mengakibatkan aroma melati atau wangi yang khas. Menurut hasil riset bahwa Teh Melati bisa berguna buat menurunkan kadar kolesterol dan meyegarkan badan.

Perbedaan perkembangan sawi sistem wick botol versus wick sterofoam

Perbedaan perkembangan sawi sistem wick botol versus wick sterofoam

Saya tertarik menulis mengenai hal ini karena kebetulan terdapat sawi yg awalnya sama, berasal berdasarkan semaian yang sama, tetapi tempat pembesarannya berbeda. Dan ternyata hasilnya tidak sama seperti bisa dipandang dalam foto dibawah ini.

Sterofoam
Botol Mizone

Pada sawi di sterofoam, daunnya terlihat lebih besar dan lebih banyak. Saat dilihat akarnya juga lebih besar yang berada pada sterofoam. Tanaman ini sendiri berumur lebih kurang 55 hari setelah semai.

Teknik Budidaya Tanaman Karet

Teknik Budidaya Tanaman Karet

Karet adalah polimer hidrokarbon yang terbentuk dari emulsi kesusuan (dikenal sebagai lateks), diperoleh dari getah beberapa jenis tumbuhan pohon karet.  Sumber utama lateks yang digunakan untuk menciptakan karet adalah pohon karet (Hevea brasiliensis Moel.), diperoleh dengan cara melukai kulit pohon sehingga pohon akan memberikan respons dengan mengeluarkan getah/lateks.

Tanaman karet berasal menurut hutan sepanjang sungai Amazone, Amerika Selatan dan mulai dikenal oleh bangsa Eropa dalam tahun 1736 sesudah Charles Martie de la Condomine mengirim contoh tumbuhan karet menurut Peru ke Perancis. Mulai masuk ke Indonesia dalam tahun 1876 dan ditanam pada kebun Raya Bogor, tetapi perkebunan karetnya sendiri baru dibuka dalam tahun 1902 di Sumatera & tahun 1906 di Jawa.

Jenis-jenis karet alam di antaranya: bahan olah karet (bokar), karet konvensional (sheet, crepe, dan compo), lateks pekat, karet spesifikasi teknis (crumb rubber) dan karet siap olah. Karet alam banyak digunakan sebagai bahan baku dalam industri barang antara lain: ban kendaraan, sepatu karet, sabuk penggerak mesin, pipa karet, isolator, bahan pembungkus logam, dsb., dihasilkan oleh tidak kurang dari 20 negara di dunia; tiga di antaranya yaitu Malayasia, Indonesia, dan Thailand, merupakan penghasil karet terbesar yang menguasai lebih dari 83 % pasar karet dunia.

Karet alam merupakan salah satu komoditas pertanian yang penting di Indonesia karena banyak menunjang perekonomian negara.  Pasar ekspor karet alam Indonesia di antaranya Amerika Serikat, Singapura, Eropa Barat, Uni Soviet dan Jepang.   Luas areal perkebunan karet di Indonesia (tahun 2008) mencapai lebih dari 3,4 juta hektar dengan produksi 2,7 juta ton, yang sebagian besar (85%) merupakan tanaman karet rakyat.  Oleh sebab itu, peran karet tidak hanya sebagai penghasil devisa, juga memiliki arti sosial bagi petani yang mengusahakannya.

Salah satu kasus yg dihadapi pada pengusahaan karet di indonesia, khususnya karet rakyat merupakan produktivitas serta kualitasnya yg masih rendah. Pemerintah telah tetapkan target pengembangan produksi karet alam Indonesia sebanyak 3 ? 4 juta ton/tahun pada tahun 2025. Sasaran produksi tadi hanya bisa dicapai jika minimal 85% areal kebun karet (warga ) yang ketika ini kurang produktif berhasil diremajakan dengan memakai klon karet unggul.

Aspek Botani

1.    Sistematika

Divisio                  : Spermatophyta

Subdivisio             : Angiospermae

Klas                             : Dicotyledoneae

Ordo                              : Tricoceae

Familia                            : Euphorbiaceae

Genus                                   : Hevea

Spesies                                   : Hevea brasilliensis Moel.Agr.

2.    Morfologi Tanaman

Tanaman karet memiliki perakaran yang ekstensif, akar tunggangnya mampu tumbuh menembus tanah sampai 2 m, sedangkan  akar lateralnya menyebar sepanjang lebih dari 10 m.

Tanaman karet berbentuk pohon dengan tinggi 15-25 m, tipe pertumbuhan tegak dan memperlihatkan pola pertumbuhan berirama (ritme), yakni terdapat masa tumbuh (flush) dan masa istirahat (latent) yang bergntian dalam periode sekali dalam dua bulan.Batangnya berkayu, dengan susunan dari luar ke dalam sebagai berikut:

(a)   kulit keras, terdiri dari lapisan gabus, kambium gabus, lapisan sel batu;

(b)  kulit lunak, di dalamnya terdapat floem dan pembuluh lateks;

(c)   kambium;

(d)  kayu/xylem.

Pembuluh lateks melingkar di dalam jaringan floem seperti spiral, membentuk sudut 3,7o – 5o terhadap garis vertikal dari kanan (atas) ke kiri (bawah).

Daun flora karet merupakan daun majemuk, dimana satu tangkai daun umumnya mempunyai tiga-5 anak daun.Tangkai daun panjangnya 3-20 cm, anak daun eliptis memanjang menggunakan ujung runcing, tepi rata & gundul.Daun tumbuh pada buku-buku menciptakan karangan daun yg dianggap payung.Termasuk tnaman decidious, menggugurkan daunnya dalam trend kemarau.

Bunga tersusun dalam rangkaian (malai) berbentuk seperti kerucut.Termasuk tanaman monoceous (bunga jantan dan betina letaknya terpisah dalam satu malai), bunga jantan terletak di bagian bawah/pangkal dari cabang-cabang malai sedangkan bunga betina terletak di ujung malai.Bunga betina memiliki 3 bakal buah yang beruang 3 dengan kepala putik yang duduk, bunga jantan memiliki 10 benang sari yang bersatu membentuk tiang, serbuk sari lengket, kecil dengan diameter 25-30 mikron.

Buah karet mempunyai garis tengah antara 3-5 cm, dengan bagian ruang yang berbentuk setengah bola;  biji besar, berbercak/bernoda (khas dan beracun).Masak buah yang normal sekitar 5 bulan, buah masak pecah dengan kuat menurut ruang.

Persyaratan Tumbuh

Ketinggian loka

Tanaman karet poly ditanam pada ketinggian 0-500 m dpl, menggunakan ketinggian optimum 0-200 m; meningkat tempat penanaman pertumbuhan lambat sebagai akibatnya waktu buka sadap sebagai tertunda. Berdasarkan output penelitian, interaksi antara ketinggian loka menggunakan rata-rata umur buka sadap merupakan sebagai berikut:

(a)        0-200 m dpl; < 6 tahun

(b)       200-400 m dpl; 7 tahun

(c)        400-600 m dpl; 7,5 tahun

(d)       600-800 m dpl; 8,6 tahun

(e)        800-1000 m dpl; 10,2 tahun.

Iklim

Tanaman karet tumbuh baik pada lintang 6o LU – 6o LS, namun masih bisa tumbuh baik pada lintang 10o LU – 10o LS. Membutuhkan daerah panas dan lembab dengan suhu yang dikehendaki antara 24o – 28o C.Curah hujan tidak kurang dari 1500-2000 mm/th, yang terdistribusi merata sepanjang tahun; paling baik curah hujan 2500-3000 mm/th dengan 100-150 hari hujan.

Tanah

Tanaman karet dapat tumbuh dalam banyak sekali jenis tanah dengan kemiringan tanah kurang dari 10%. Kedalaman efektif lebih menurut 100 centimeter, tekstur tanah terdiri lempung berpasir & liat berpasir, pH tanah berkisar antara 4,tiga ? Lima,0, menggunakan drainase tanah sedang.

Persiapan Lahan

1.    Pembukaan Lahan

Lahan yg digunakan

Lahan buat budidaya tumbuhan karet bisa berupa huma yang baru dibuka (perluasan/new planting), huma bekas tanaman karet yag dibongkar (peremajaan/replantig), atau lahan bekas tumbuhan lain (konversi)

Kegiatan pada areal yg baru dibuka mencakup

Penebangan pohon, pembongkaran tunggul, pembabadan/penebasan semak dan pembersihan sisa-sisa tumbuhan tersebut (pembakaran). Pengolahan tanah dengan pembajakan atau pencangkulan untuk meratakan dan memperbaiki sifat fisik tanah. Pembuatan saluran drainase, pembuatan teras, dan  pembuatan jalan kebun.

Kegiatan pada pembukaan ulangan/peremajaan atau konversi meliputi

Pembongkaran tumbuhan tua & pencucian residu-residu flora tadi; pengolahan tanah; perbaikan teras, saluran dan jalan kebun.

2.    Konservasi Lahan

Cara yang biasa dipakai buat mencegah kerusakan lahan, mencakup: (a) penanaman menurut kontur; (b) pembuatan teras (bisa berbentuk teras individu atau teras kolektif); (c) penanaman flora penutup tanah.

3.    Pengajiran

Tujuanya adalah untuk memperoleh barisan tanaman yang teratur sesuai jarak tanam dan huungan tanaman. Barisan tanaman karet yang terbentuk ada dua macam:            (1) barisan lurus, untuk lahan yang datar dan agak miring; (2) barisan kontur, pada lahan yang bergelombang atau berbukit. Hubungan antar tanaman pada lahan datar atau agak miring dapat berbentuk segitiga sama sisi, bujur sangkar atau hubungan jalan.

4. Penanaman penutup tanah

Manfaat tanaman penutup tanah: (1) melindungi permukaan tanah terhadap erosi; (2) menekan pertumbuha gulma; (tiga) mengurangi penguapan & membantu menyimpan air tanah; (4) menaikkan kesuburan tanah; (5) memperbaiki pertumbuhan flora utama; (6) memperlama masa peremajaan; (7) menaikkan hasil dan pertumbuhan kulit yang lebih baik.

Tanaman penutup tanah yang banyak digunakan yaitu dari keluarga Leguminosa (disebut LCC=Legum Cover Crops), antara lain Calopogonium mucunoides, C. caeruleum, Centrosema pubescens, C. plumieri, Mucuna colchichinensis, dsb.

Penanaman dilakukan secara campuran dengan komposisi buat 1 ha huma sbb:

–    campuran C. mucunoides (2,8 kg) + C. phaseloides (2,3 kg) + C caeruleum (0,6 kg);

–    campuran C. phaseloides (3,4 kg) + C. caeruleum (0,6 kg) + M. colchichinensis (1,7 kg);

–    campuran C. pubescens (3,9 kg) + C. phasoloides (1,2 kg) + C caeruleum (0,6 kg).

Cara menanam LCC: (1) jarak barisan pertama dengan tanamn karet 1,0 m, barisan berikutnya berjarak 1,0 m pada lahan datar atau landai, dan 1,8-2,4 m pada lahan bergelombang atau berbukit; (2) benih ditanam pada lubang sedalam 5-10 cm dalam barisan sesuai dengan jarak tanam LCC tsb; (3) sebelum ditanam benih LCC terleih dahulu direndam dalam air panas (70 oC) selama 2 jam, kemudian dicampue dengan pupuk fosfat (misal CIRP) dengan perbandingan yang sama; (4) LCC perlu dipelihara dan dijaga jangan sampai mengganggu pertumbuhan tanaman pokok.

Persiapan Bahan Tanaman

Tanaman karet bisa diperbanyak menggunakan biji atau dengan cara okulasi menggunakan btg bawah asal biji.Bahan flora, baik buat btg bawah juga batang atas, berupa klon-klon yg dianjurkan yg mempunyai produksi dan sifat-sifat sekunder yg baik.

Sifat-sifat ideal buat klon unggul: (a) produksi lateksnya tinggi semenjak awal dan memiliki kemampuan buat menaikkan produksi; (b) resisten terhadap hama dan penyakit dan pengaruh angin; (c) batang tumbuh lurus, membentuk as yg silindris, serta tumbuh jagur; (d) cabang relatif kecil dan menyebar, menciptakan sudut yang akbar menggunakan btg.

Batang bawah

Persyaratan untuk batang bawah: (a) perakaran kuat dan berkembang baik serta tahan terhadap penyakit akar; (b) mempunyai daya gabung yang baik dengan batang atas; (c) memberi pengaruh yang beik terhadap pertumbuhan batang atas, Klon yang dianjurkan untuk batang bawah adalah  AVROS 2037, BPM 24, GT 1, PB 260 dan RRIC 100

Biji diambil dari kebun induk khusus atau dari kebun produktif yang menghasilkan biji yang diketahui kedua induknya (legitiem) atau minimal salah satu induknya (propelegitiem). Biji yang baik berasal dari tanaman yang telah berumur minimal 8 tahun, dengan ciri-ciri: (a) bila dijatuhkan melenting ke atas; (b) kulit jernih mengkilat; (c) nilai kesegaran biji minimal 80 %; (d) daya kecambah (dalam waktu 21 hari) minimal 80 %; (e) kadar air 32-45 %; (f) kemurnian minimal 90 %.

Batang atas

Persyaratan buat btg atas: (a) pertumbuhan jagur & berpotensi produksi tinggi; (b) memiliki tajuk yang baik dan tahan angin kencang; (c) toleran terhadap penyakit; (d) respon terhadap stimulasi; (e) mempunyai sifat sekunder (pemulihan kulit sadap, daya adaptasi, dll) yg baik.

Klon-klon unggul karet yang direkomendasikan Pusat Penelitian Karet untuk periode 2006-2010 terdiri berdasarkan 2 kelompok.

(1)                        Klon anjuran komersial adalah sekelompok klon dengan data yang lebih lengkap dan sudah dapat dikembangkan oleh pengguna. Klon-klon ini sudah berupa benih bina, kecuali klon IRR 42 dan IRR 112 masih dalam proses pengajuan untuk pelepasannya sebagai benih bina. Klon-klon anjuran komersial terdiri dari tiga katagori.

–       klon penghasil lateks: BPM 24, BPM 107, BPM 109, IRR 104, PB 217 dan    PB 260.

–       klon penghasil lateks-kayu: BPM 1, PB 330, PB 340, RRIC 100, AVROS 2037, I RR 5, IRR 32, IRR 39, IRR 42, IRR 112 dan IRR 118,

–       klon penghasil kayu: IRR 70, IRR 71, IRR 72 dan IRR 78.

(2)                        Klon harapan, merupakan kelompok klon yang mempunyai potensi pertumbuhan dan produksi tinggi tetapi belum berupa benih bina.  Klon harapan terdiri dari: IRR 24, IRR 33, IRR 41, IRR 54, IRR 64, IRR 105, IRR 107, IRR 111, IRR 119, IRR 141, IRR 208, IRR 211 dan IRR 220.

Pesemaian pengecambahan

Pesemaian pengecambahan adalah tempat buat mengecambahkan benih karet sebelum dipindahkan ke pembibitan. Maksud pengecambahan merupakan: (1) buat memperoleh bibit yang pertumbuhannya seragam; (dua) buat memisahkan/menyeleksi bibit yang pertumbuhannya cepat & baik menurut bibit yang lambat & kurang baik.

1) Persiapan bedengan

Lokasi datar, dekat dengan sumber air & dekat dengan lokasi pembbitan, Tanah dibersihkan, dicangkul dan diratakan, kemudian dibentuk bedengan dengan ukuran lebar 1-1,dua m & panjang sesuai loka (umumnya lima-10 m), menggunakan jarak antar bedengan 0,lima-1 m. Bagian samping bedengan diberi resistor berdasarkan bambu/batu bata kemudian diberi pasir diatasnya setebal 5 cm. Bedengan diberi naungan (mampu individu atau kolektif) dengan tinggi sebelah timur 1,5 m dan barat 2m, dengan atap terbuat dari anyaman bambu atau alang-alang.

2) Menyemai benih

Sebelum disemai benih direndam terlebih dahulu dalam larutan KNO3 0,2% selama 24 jam atau air bersih selama 48 jam. Benih disemai dengan cara dibenamkan sedalam 2/3 bagian ke dalam tanah dengan bagian perut menghadap ke bawah. Jarak antara barisan 5 cm dan dalam barisan 3 cm. Persemaian disiram tiap pagi dan sore hari dengan menggunakan embrat. Benih biasanya akan berkecambah setelah 10-14 hari.

3) Pemindahan kecambah

Benih yang telah berkecambah secra bertahap dipindahkan ke pesemaian bibit. Pemindahan kecambah bisa dilakukan pada stadium pancing, stadium bintang, maupun stadium jarum.  Pemindahan paling baik pada stadium pancing. Pemindahan dilakukan dengan hati-hati menggunakan alat mencungkil (solet).

Pembibitan

Pembibitan/pesemaian bibit adalah tempat pemeliharaan bibit sebelum dipindah ke lapangan dengan tujuan memperoleh bbit yg jagur & homogen.

1) Persiapan lokasi pembibitan

Lokasi dipilih lahan yg datar, dekat dengan sumber air, nir bercadas, & dekat dengan lokasi penanaman. Lahan dicangkul sedalam 60-75 cm, dan dibersihkan dari sisa-residu akar & kotoran lainnya. Tanah dihaluskan dan diratakan, kemudian dibentuk petak-petak/bedengan dengan tinggi 20 cm. Jarak tanam bibit diadaptasi menggunakan kesuburan tanah dan lamanya bibit di pesemaian.

–    bibit umur 1 tahun: jarak tanamnya 35 x 35 x 50 cm (47.320 bibit/ha)

–    bibit umur 2 tahun: jarak tanamnya 45 x 45 x 50 cm (34.080 bibit/ha)

–    bibit stum tinggi: jarak tanamnya 70 x70 cm (17.664 bibit/ha).

2) Penanaman kecambah

Kecambah dipindahkan pada stadium pancing agar akar tunggang dan pucuknya nir rusak. Penanaman dilakukan pad lubang tanam dengan kedalaman sesuai dengan panjang akar & tebalnya benih.

3) Pemeliharaan

Pemeliharaan pembibitan meliputi aktivitas penyiraman, penyulaman, anugerah mulsa, pengendalian gulma & pemupukan. Penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari. Penyulaman perlu dilakukan dalam bulan-bulan pertama buat mengganti bibit yang tewas atau pertumbuhannya kurang baik. Sampai umur tiga bulan (terutama dalam animo kering) pembibitan perlu diberi mulsa. Pengendalian gulma dilakukan 2 minggu sekali secara manusl memakai cangkul/kored, penggunaan herbisida hanya dilakukan selesainya bibit berumur 4-lima bulan.

Pemupukan

–    aplikasi dilakukan dengan cara melingkar di bawah tajuk tanaman;

–    pemupukan dihentikan satu bulan menjelang okulasi.

Waktu Dosis pupuk (g/ph/aplikasi Urea TSP MOP a. Bibit stum pendek (hst)

90

120

150

180

210

16

16

16

16

23

11

8,8

11

11

14,lima

12

12

18

b. Bibit stum tinggi

Tahun I  semester I

semester II

Tahun II semester I

semester II

30

45

90

35

50

100

30

45

90

Okulasi

Okulasi/penempelan bertujuan buat menyatukan sifat-sifat baik yg dimiliki oleh batang bawah (stock) menggunakan batang atas (scion) yang ditempelkan kepadanya.

Macam-macam okulasi

1) Okulasi coklat (brown budding)

Batang bawah yang dipakai berumur 9-18 bulan, diameter berkisar ? 1-2 centimeter dan nir berada dalam stadium membentuk payung. Mata entres diambil berdasarkan kebun entres, dari btg yang telah berwarna coklat, dengan diameter 1,lima-tiga centimeter.

(2) Okulasi hijau

Batang bawah yang digunakan berumur 3-8 bulan, masih berwarna hijau dengan diameter 1-1,5 centimeter. Kayu okulasi (entres) menggunakan cabang yang diambil berdasarkan kebun entres yang berumur 1-tiga bulan setelah pemangkasan, warnanya masih hijau & telah menciptakan 1-2 payung.

Pelaksanaan okulasi

Pada batang bawah, pada ketinggian 7-10 cm dari permukaan tanah dibentuk jendela dengan menyayat kulit sampai batas kayu. Sayatan dilakukan menggunakan menciptakan 2 sayatan vertikal berukuran 5-7 centimeter, dan satu sayatan horizontal dalam ujung sayatan bagian atas atau bawah. Perisai (mata entres) diambil dari kayu entres menggunakan berukuran sedikit lebih mini berdasarkan; dalam okulasi coklat bagian kayunya dilepas, sedangkan dalam okulasi hijau nir perlu dilepas. Perisai lalu diselipkan dalam jendela yg sudah dibentuk, diantara kulit ventilasi menggunakan kambium. Balut dengan pembalut yang tersedia (plastik atau rapia) dengan arah berdasarkan bawah ke atas.

Pemeriksaan hasil okulasi

Dua sampai tiga minggu setelah penempelan, pembalut dibuka & perisai diperiksa menggunakan cara menggores sedikit menggunakan pisau; apabila masih berwarna hijau segar memberitahuakn perisai masih hidup. Pemeriksaan diulang 1-2 minggu lalu, apabila tetap dalam keadaan segar menunjukkan okulasi berhasil.

Pemotongan batang bawah

Pemotongan btg bawah bertujuan buat menghentikan pertumbuhan ke atas sebagai akibatnya zat kuliner bisa dipakai buat pertumbuhan okulasi. Waktu pemotongan tergantung pada macam bibit yg akan ditanam. Batas mutilasi kurang lebih 10 cm di atas tempelan dengan arah miring (bagian yg tinggi berada pada atas tempelan.

5. Macam-macam bibit hasil okulasi

Bibit hasil okulasi yang dipindahkan ke lapangan/kebun dapat berbentuk stum mata tidur, stum mini , stum tinggi & bibit pada polibeg.

1)   Stum mata tidur (budded stump)

Stum mata tidur adalah bibit output okulasi dalam bentuk stum menggunakan mata tunas yg belum tumbuh dalam waktu pemindahan ke lapangan. Stum mata tidur dari dari hasil okulasi coklat, dan dipindahkan dua minggu setelah pemotongan. Panjang stum ? 50 cm menggunakan panjang akar tunggang 40 centimeter dan akar lateral lima-10 centimeter.

2)   Stum mini (mini stump)

Stum kecil merupakan bibit okulasi yg ditumbuhkan pada pembibitan selama 8-12 bulan selesainya mutilasi sehingga bagian batangnya telah berwarna coklat. Tunas yg tumbuh dip[otong dengan tinggi 50 cm dari pertautan, menggunakan panjang akar tunggang 40 cm dan akar lateral 10 centimeter.

3)   Stum tinggi (advanced budded material)

Stum tinggi adalah bibit hasil okulasi yg diperoleh menggunakan cara menumbuhkan tanaman pada pembibitan selama dua-3 tahun setelah pemotongan. Tunas yang tumbuh dipotong sepanjang 275-300 centimeter dari leher akar menggunakan panjang akar tunggang 45-60 cm dan akar lateral 15 cm. Pemotongan akar tunggang dilakukan tiga-4 minggu sebelum pembonghkaran dan pemotongan btg atas dilakukan 2 minggu lalu tepat pada atas payung.

4)   Bibit okulasi dal;am kantong plastik

Merupakan bibit okulasi yg telah ditumbuhkan pada kantung plastik/polibeg hingga diperoleh bahan flora yg memiliki dua-3 payung (umur 1 tahun). Dibuat menggunakan cara memindahkan stum mata tidur dalam kantong plastik merukuran 25×55 centimeter.

Kelebihan & kekurangan masing-masing bibit

Macam bibit Kelebihan Kekurangan Stum mata tidur mudah dalam pengangkutan dan penanaman

biaya pemeliharaan pembibitan murah

persentase kematian di lapangan tinggi

ada resiko kerusakan tunas

biaya TBM tinggi

Stum mini kematian di lapangan rendah

kemungkinan tumbuh tunas palsu kecil

biaya pembibitan rendah

sampai umur 3 tahun tanaman masih bengkok Stum tinggi persentase kematian rendah

baik utuk penyulaman agar matang sadap seragam

mudah dilaksanakan

seleksi di pembibitan lebih teliti

areal pembibitan harus luas

sulit dalam pengangkutan

waktu penanaman memerlukan curah hujan yang tinggi

Bibit dalam polibeg tidak terjadi stagnasi di lapangan

tanaman seragam

perawatan di pembibitan mudah

penanaman dapat dilakukan kapan saja

biaya bibit lebih tinggi

sulit dalam pengangkutan