Pengertian dan Peran Perkebunan

Pengertian dan Peran Perkebunan

Sebagai negara yang bercorak agraris, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk pengembangan tanaman perkebunan dalam rangka mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Perkebunan memiliki peranan yang krusial dan strategis dalam pembangunan nasional, terutama pada mempertinggi kemakmuran & kesejahteraan warga , penerimaan devisa negara, penyediaan lapangan kerja, perolehan nilai tambah dan daya saing, pemenuhan kebutuhan konsumsi pada negeri, bahan standar industri pada negeri serta optimalisasi pengelolaan asal daya alam secara berkelanjutan.

Usaha perkebunan terbukti relatif tangguh bertahan dari terpaan badai resesi dan krisis moneter yang melanda perekonomian Indonesia. Untuk itu, perkebunan perlu diselenggarakan, dikelola, dilindungi & dimanfaatkan secara bersiklus, terbuka, terpadu, profesional dan bertanggung jawab demi menaikkan perekonomian rakyat, bangsa & negara. Dalam era perdagangan bebas, komoditas perkebunan merupakan keliru satu komoditas unggulan Indonesia yg sanggup menaruh devisa negara. Upaya pengembangan komoditas tersebut diharapkan bukan hanya buat menaikkan kuantitas produk, melainkan disertai peningkatan kualitas, keamanan, kontinuitas produksi dgn taraf harga yg kompetitif sebagai akibatnya bisa bersaing di pasar internasional.

Pengertian Perkebunan

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2004, yang dimaksud dengan  perkebunan adalah segala kegiatan yang mengusahakan tanaman tertentu pada tanah dan/atau media tumbuh lainnya dalam ekosistem yang sesuai, mengolah dan memasarkan barang dan jasa hasil tanaman tersebut, dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi, permodalan serta manajemen untuk mewujudkan kesejahteraan bagi pelaku usaha perkebunan dan masyarakat.

Tanaman eksklusif merupakan flora semusim dan/atau flora tahunan yg karena jenis dan tujuan pengelolaannya ditetapkan sebagai tumbuhan perkebunan.

Perkebunan diselenggarakan dari atas asas manfaat dan berkelanjutan, keterpaduan, kebersamaan, keterbukaan, dan berkeadilan, sedangkan tujuan pengelolaan perkebunan adalah: a) mempertinggi pendapatan rakyat; b) menaikkan penerimaan negara; c) menaikkan penerimaan devisa negara; d) menyediakan lapangan kerja; e) menaikkan produktivitas, nilai tambah, dan daya saing; f) memenuhi kebutuhan konsumsi & bahan standar industri pada negeri; dan g) mengoptimalkan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Perkebunan mempunyai  tiga fungs, yaitu: a) ekonomi, yaitu peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat serta penguatan struktur ekonomi wilayah dan nasional; b) ekologi, yaitu peningkatan konservasi tanah dan air, penyerap karbon, penyedia oksigen, dan penyangga kawasan lindung; dan c) sosial budaya, yaitu sebagai perekat dan pemersatu bangsa.

Pelaku usaha perkebunan di Indonesia dibedakan atas dua golongan yaitu pekebun dan perusahaan perkebun. Pekebun adalah perorangan yang melakukan usaha perkebunan dengan skala usaha tidak mencapai skala tertentu, atau lebih dikenal dengan perkebunan rakyat. Perusahaan perkebunan adalah pelaku usaha perkebunan  berbentuk badan hukum yang meliputi koperasi dan perseroan terbatas baik milik negara maupun swasta, yang mengelola usaha perkebunan dengan skala tertentu.

Perbedaan keduanya bisa ditinjau sbb:

Perkebunan Rakyat

Perkebunan Besar

1. Luas lahan relatif sempit

dua. Modal lemah

3. Tingkat teknologi tradisional

4. Pengolahan hasil konvensional

1. Luas huma besar

2. Modal bertenaga

tiga. Teknologi maju

4. Pengolahan hasil terkini

Berdasarkan kemampuan yg dimiliki maka perkebunan akbar mampu buat menaikkan penghasilan dan laba per hektar dan per satuan energi kerja yang lebih tinggi dibanding perkebunan rakyat. Tetapi hal ini tidaklah berarti bahwa perkebunan akbar nir memiliki kesulitan /pertarungan, diantaranya:

1.    Perkebunan Besar biasanya mempunyai beban bunga yang tinggi dari penanaman modal.

2. Perkebunan Besar mempunyai resiko besar terhadap beberapa fluktuasi harga pasaran dunia, sedangkan pemindahan hasil komoditi dari yang satu ke yang lain tidaklah mudah.

3.    Perkebunan Besar memerlukan tenaga kerja yang besar dan relatif mahal, meskipun tenaga kerja yang banyak dan murah merupakan salah satu ciri negara tropis, tetapi dalam praktek permasalahan yang timbul cukup banyak karena upah tenaga kerja merupakan masukan2 yang besar.

Sedangkan perkebunan kecil /masyarakat mempunyai beberapa kelebihan dibanding perkebunan akbar, antara lain merupakan :

1.    Perkebunan kecil merupakan usaha yang dijalankan oleh keluarga, termasuk pengadaan kebutuhan pangannya, sehingga penganekaragaman hasil lebih mudah dilaksanakan dalam waktu yang kritis (pemasaran, perang dsb).

2.    Usaha perkebunan memerlukan masukan tenaga kerja yang tinggi dan relatif sedikit memerlukan mesin, sehingga memungkinkan perkebunan diusahakan secara ekonomis dalam bentuk perkebunan kecil tanpa menghadapi kesulitan yang berarti dalam masalah tenaga kerja, karena relatif cukup tersedia dalam keluarga.

3.    Bila resiko pemasaran meningkat, gejolak politik meningkat dan upah buruh meningkat, maka perkebunan kecil lebih mampu bertahan dibandingkan perkebunan besar.

Perkebunan besar lebih sanggup bersaing dibanding menggunakan perkebunan kecil, hanya dalam syarat khusus sbb.:

1.    Bila proses produksi memerlukan teknologi yang tinggi.

2.    Bila produksi per ha adalah besar sehingga memerlukan biaya transpor yang tinggi.

3.  Bila produksi mempunyai nilai ekonomis yang tinggi dan untuk pemasaran memerlukan persyaratan kualitas seragam, dan harus bisa menyerahkan hasil pada waktu yang telah ditentukan.

Tanaman Perkebunan

Tanaman perkebunan adalah tanaman semusim dan/atau tanaman tahunan yang karena jenis dan tujuan pengelolaannya ditetapkan sebagai tanaman perkebunan.  Dengan demikian tanaman perkebunan bisa dikelompokkan jadi dua, yaitu tanaman semusim dan tanaman tahunan. Tanaman semusim adalah jenis tanaman yang hanya dipanen satu kali dengan siklus hidup satu tahun sekali, contohnya tanaman tebu, kapas dan tembakau. Sementara tanaman tahunan membutuhkan waktu yang panjang untuk berproduksi dan bisa menghasilkan sampai puluhan tahun dan bisa dipanen lebih dari satu kali, misalnya tanaman kelapa sawit, karet, kakao, cengkeh, kopi dan lada.

Sebagai komoditas tanaman perkebunan mempunyai sebutan lain yaitu tumbuhan perdagangan dan flora industri. Sebutan ini memperlihatkan legitimasi bahwa ada peluang bisnis menurut pengusahaan tanaman perkebunan. Selain itu flora sub sektor perkebunan memiliki peranan krusial dalam pembangunan nasional, terutama dalam mempertinggi kemakmuran & kesejahteraan masyarakat, penerimaan devisa negara, penyedia lapangan kerja segaimana sudah disebutkan beliau atas.

Keputusan Menteri Pertanian Nonor 511 Tanun 2006, mengenai Jenis Komoditi Tanaman Binaan Direktorat Jenderal Perkebunan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Direktorat Jenderal Hortikultura Klik disini

Mengenal Cara Budidaya Tanaman Teh

Mengenal Cara Budidaya Tanaman Teh

Teh mengandung kafein dan minyak astherischyang menimbulkan rasa nikmat dan aroma yang sedap. Selain itu minuman teh juga bisa dijadikan sebagai penambah daya tahan tubuh karena mengandung tanin dan katekin, sertamencegah atau membantu penyembuhan penyakit ringan sejenis influenza hingga yang berat macam kanker. Dalam perkembangannya, teh banyak diolah menjadi produk industri yang makin digemari masyarakat, baik dalam maupun luar negeri. Daun teh segar mengandung 4 % kafein (caffein). Komponen aktif lainnya yang terdapat di dalam teh diantaranya dari golongan polifenol yang bersifat meredam radikal bebas dan antioksidan.

Teh merupakan salah satu jenis minuman penyegar yang sangat disukai oleh hampir seluruh penduduk dunia dan sudah dijadikan minuman sehari-hari. Bila dibandingkan dengan jenis minuman lain, teh ternyata lebih banyak manfaatnya.

Teh dihasilkan dari pengolahan pucuk daun teh (Camellia sinensis(L) Kuntze). Tanaman ini berasal dari wilayah perbatasan negara-negara China selatan (Yunan), Laos Barat Laut, Muangthai Utara, Burma Timur dan India Timur Laut, yang merupakan vegetasi hutan daerah peralihan tropis dan subtropis. Tanaman ini juga tumbuh subur di kawasan Asia Tenggara pada garis lintang 30° LU – 30° LS. Tanaman teh yang tumbuh di Indonesia sebagian besar merupakan varietas Asamica yang berasal dari India. Teh jenis ini berpotensi untuk dikembangkan menjadi produk olahan pangan/minuman fungsional.

Tanaman teh pertama kali masuk ke Indonesia tahun 1684, berupa biji teh dari Jepang yang dibawa oleh seorang Jerman bernama Andreas Cleyer, dan ditanam sebagai tanaman hias di Jakarta. Pada tahun 1694, seorang pendeta bernama F. Valentijn melaporkan melihat perdu teh muda berasal dari China tumbuh di Taman Istana Gubernur Jendral Champhuys di Jakarta.  Pada tahun 1826 tanaman teh berhasil ditanam melengkapi Kebun Raya Bogor, dan pada tahun 1827 di Kebun Percobaan Cisurupan, Garut, Jawa Barat.

Berhasilnya penanaman percobaan skala besar di Wanayasa (Purwakarta) dan di Raung (Banyuwangi) membuka jalan bagi Jacobus Isidorus Loudewijk Levian Jacobson, seorang ahli teh, menaruh landasan bagi usaha perkebunan teh di Jawa.  Teh dari Jawa tercatat pertama kali diterima di Amsterdam tahun 1835. Jenis yang ditanam adalah jenis sinensis.

Teh jenis Assam mulai masuk ke Indonesia (Jawa) dari Sri Lanka (Ceylon) pada tahun 1877, dan ditanam oleh R.E. Kerkhoven di kebun Gambung, Jawa Barat.  Dengan masuknya teh Assam tersebut ke Indonesia, secara berangsur tanaman teh China diganti dengan teh Assam, dan sejak itu pula perkebunan teh di Indonesia berkembang semakin luas. Pada tahun 1910 mulai dibangun perkebunan teh di daerah Simalungun, Sumatera Utara.

Sistimatika

Divisio                 : Spermatophyta

Kelas                    : Dicotyledoneae

Ordo                  : Chorripetales

Famili               : Theaceae

Genus                : Camellia

Spesies                 : Camellia sinensis (L) Kuntze

Deskripsi Tanaman

Tanaman teh merupakan tanaman tahunan berbentuk pohon dengan percabangan agak dekat ke permukaan tanah.  Batang keras, tegak, dan bila tidak dipangkas bisa mencapai ketinggian 3-9 m (var. sinensis) dan 12-20 m (var. assamica).

Daun teh adalah daun tunggal yang letaknya berselang seling, kedudukan pada btg bervariasi dari ukuran mini , sedang sampai ukuran besar . Warna daun dewasa hijau muda hingga hijau gelap, dan daun muda menurut kuning keemasan sampai hijau kekuningan.

Tanaman teh memilki akar tunggang yg panjangnya 90-150 cm, dengan diameter 7,5 mm. Pada akar tunggang tumbuh akar primer, sekunder, dan bulu-bulu akar, umumnya berkembang dalam kedalaman 0-25 centimeter.

Bunga muncul di ketiak daun, merupakan bunga sempurna, namun sebagian besar bersifat self steril. Memiliki putik dengan 5-7 buah mahkota bunga berwarna putih, harum dan berlilin, berbentuk cekung lonjong. Tangkai sari panjang dengan benang sari berwarna kuning.

Buah termasuk buah kotak, umunya terdiri dari tiga butir. Perkembangan bunga menjadi buah berlangsung 8-9 bulan.  Buah yang masak kelihatan mengkilap seperti berminyak dan akhirnya akan pecah. Biji muda berwarna putih dan akan berubah menjadi coklat setelah tua.  Ukuran biji bervariasi tergantung klonnya, bulat sampai gepeng.

Persyaratan Tumbuh

Tanaman teh berasal dari daerah sub tropis, sehingga di Indonesia lebih cocok di tanam di daerah pegunungan. Kebun teh di Indonesia terdapat kisaran elevasi yang cukup luas, yaitu antara 400-2000 m atau lebih di atas permukaan laut, biasanya dibagi menjadi 3 darah, yaitu: (1) daerah rendah sampai 800 m; (2) daerah sedang antara 800-1200 m; (3) daerah tinggi lebih dari 1200 m.

Suhu udara yang baik berkisar antara 13°-25°C, dengan kelembaban relatif pada siang hari tidak kurang dari 70%. Curah hujan yang dibutuhkan tidak kurang dari 2000 mm/th, merata sepanjang tahun dengan bulan kering (curah hujan < 60 mm/bln) tidak lebih dari dua bulan.Semakin banyak sinar matahari, pertumbuhn tanaman semakin baik sepanjang curah hujan mencukupi dan suhu tidak lebih dari 30oC.

Tanah yang harmonis atau memenuhi syarat untuk pertumbuhan tanaman teh adalah tanah yang subur, poly mengandung bahan organik, nir bercadas menggunakan kedalaman efektif lebih menurut 40 centimeter serta memiliki derajat keasaman (pH) antara 4,lima-5,6.Jenis tanah yg harmonis merupakan Andisol, tetapi masih memungkinkan ditanam dalam jenis tanah yang lain (harmonis bersyarat) seperti Latosol & Podsolik menggunakan pengelolaan yang lebih intensif.

Persiapan Lahan

1. Persiapan lahan buat penanaman baru (new planting)

Lahan yang digunakan sanggup berupa lahan bekas hutan, semak belukar, atau huma pertanian lainnya yg dikonversi. Pekerjaan persiapan mencakup: survai & pemetaan tanah; pembongkaran pohon & tunggul; babad & nyasap; pengolahan tanah, meliputi pencangkulan, ngarag, dan meratakan tanah; pembuatan jalan kebun.

Survai dan pemetaan tanah

Hasil survai berguna buat: pembuatan peta kebun & peta kemampuan lahan; pembuatan wahana jalan & lokasi emplasemen; pembuatan selokan dan saluran drainase.

Pembongkaran pohon dan tunggul

Pembungkaran pohon dan tunggul mampu dilakukan dengan tiga cara, yaitu: dibongkar secara manual menggunakan takel berbekuatan tiga-lima ton; pohon dimatikan terlebih dahulu dengan cara pengulitan (ring barking) setinggi 1 m berdasarkan leher akar, perdu akan tewas selesainya 6-12 bulan; pohon dimatikanmmenggunakan arborsida Garlon 480 P, diaplikasikan pada batang yg sudah dikuliti selebar 10-20 centimeter dalam ketinggian 50-60 cm, perdu akan mati setelah 6-12 bulan.

Babad & nyasap

Dilakukan selesainya pembongkaran pohon & tunggul, sampah hasil babadan dibuang ke loka yg tidak akan ditanamami. Setelah pembabadan, tanah disasap dengan cangkul sedalam 5-10 centimeter buat membersihkan huma berdasarkan gulma.

Pengolahan tanah

Maksud pengolahan tanah adalah mengusahakan supaya tanah sebagai gembur dan higienis menurut sisa-residu tumbuhan & gulma. Pengolahan tanah dilakukan menggunakan 2 kali pencangkulan, pencangkulan pertama dilakukan sedalam 60 centimeter buat menggemburkan tanah & membersihkan sisa tanaman /gulma; dan ke 2 dilakukan 2-3 minggu kemudia sedalam 40 centimeter sambil mertakan tanah.

Pembuatan jalan dan saluran drainase

Setelah pengolahan tanah dilanjutkan dengan pematokan petakan-petakan kebun dengan ukuran 20 m x 20 m (400 m2, biasa disebut satu patok). Jalan kebun dibuat engan lebar 1m, untuk memudahkan pekerjaan pemeliharaan. Saluran dreinase juga dibuat untuk mencegah terjadinya bahaya erosi, serta memperbaiki drainase pada cekungan.

Dua. Persiapan lahan buat penanaman ulang (replanting)

Pembongkaran pohon pelindung

Pohon pelindung yg terdapat perlu dibongkar supaya tidak merupakan asal hama/penyakit & tidak terjadi persaingan dalam mengambil unsur hara, air & sinar surya. Pembongkaran pohon pelindung dilakukan misalnya membongkar pohon & akar pada huma baru.

Pembongkaran perdu teh tua

Pada huma yang datar atau landai pembongkaran dengan cara pencabutan sebagai berikut: pembongkaran dilakukan menggunakan takel berkekuatan tiga-lima ton; takel dipasang di atas perdu yang akan dibongkar, rantai takel dibelitkan pada leher akar lalu ditarik perlahan-lahan hingga perdu terangkat beserta akarnya.

Pada lahan miring (> 30 %) perdu dilatikan secara kimiawi (tanpa dibongkar); perdu dipangkas setinggi 5 cm (pangkasan leher akar); luka pangkasan dibersihkan kemudian diberi larutan Garlon 480 P sebanyak 5 ml yang dicampur dengan solar 95 ml, untuk 15 perdu (perdu akan mati setelah 6-12 bulan).

Sanitasi lahan

Sanitasi lahan terutama dilakukan pada huma yang sudah terjangkit penyakit cendawan akar. Tindakan sanitasi di antaranya: dengan penanaman rumput guatemala selama dua tahun; menggunakan fumigasi memakai methylbromida atau Vapam.

Pengolahan tanah

Pada lahan yang perdunya dicabut tanah diolah degan cara dicangkul seperi dalam huma baru. Pada huma yg perdunya dimatikan secara kimia (huma miring) tidak perlu pengolahan, relatif dengan dibersihkan dan diratakan.

Proses Pengolahan Teh Hitam dan Teh Hijau

Proses Pengolahan Teh Hitam dan Teh Hijau

Popularitas teh sebagai minuman papan atas dunia telah nir bisa dipungkiri lagi. Disamping mempunyai rasa & aroma yg atraktif, belakangan kemampuannya menjadi minuman kesehatanpun acapkali sebagai buah bibir sejumlah ahli.

Berdasarkan cara pengolahannya, teh bisa dikelompokkan menjadi tiga yaitu teh fermentasi (teh hitam), teh semi fermentasi (teh oolong & teh pouchong) dan teh tanpa fermentasi (teh hijau). Istilah fermentasi sebenarnya bukanlah istilah yang sempurna buat mendeskripsikan proses pengolahahan dalam teh. Istilah diatas akan lebih sempurna apabila memakai istilah oksidasi-enzimatis (disingkat: oksimatis).

Baik teh hitam, teh hijau juga teh oolong & teh pouchong bisa diolah menurut bahan baku yg sama yaitu daun teh atau Camellia sinensis. Berdasarkan varietasnya Camellia sinensis dibagi menjadi dua yaitu Camellia sinensis var. Assamica & Camellia sinensis var. Sinensis. Di Indonesia, sebagian besar tanamannya berupa Camellia sinensis var. Assamica. Salah satu kelebihan menurut varietas Assamica ini merupakan kandungan polifenolnya yg tinggi, sehingga sangatlah beralasan jika teh Indonesia lebih berpotensi dalam hal kesehatan dibandingkan teh Jepang maupun teh China yang mengandalkan varietas Sinensis sebagai bahan bakunya.

A. Pengolahan Teh Hitam

Secara generik, pengolahan teh hitam di Indonesia bisa dikategorikan dalam 2 sistem, yaitu sistem Orthodox & sistem baru misalnya CTC (Crushing-Tearing-Curling) dan LTP (Lowrie Tea Processor). Meski sistem yang digunakan tidak sinkron, secara prinsip proses pengolahannya tidaklah jauh tidak sinkron.

Pelayuan

Tahap pertama pada proses pengolahan teh hitam merupakan pelayuan. Selama proses pelayuan, daun teh akan mengalami dua perubahan yaitu perubahan senyawa-senyawa kimia yang masih ada pada daun dan menurunnya kandungan air sebagai akibatnya daun teh menjadi lemas. Proses ini dilakukan pada alat Withering Trough selama 14-18 jam tergantung syarat pabrik yg bersangkutan. Hasil pelayuan yang baik ditandai dengan pucuk layu yang berwarna hijau kekuningan, tidak mengering, tangkai muda menjadi lentur, apabila digenggam terasa lembut dan jika dilemparkan tidak akan buyar serta ada aroma yang spesial seperti buah masak.

Penggilingan dan Oksimatis

Secara kimia, selama proses pengilingan merupakan proses awal terjadinya oksimatis yaitu bertemunya polifenol dan enzim polifenol oksidase dengan bantuan oksigen. Penggilingan akan menyebabkan memar dan dinding sel pada daun teh sebagai rusak. Cairan sel akan keluar pada permukaan daun secara rata. Proses ini merupakan dasar terbentuknya mutu teh. Selama proses ini berlangsung, katekin akan diubah menjadi theaflavin & thearubigin yang adalah komponen penting baik terhadap rona, rasa juga aroma seduhan teh hitam. Proses ini umumnya berlangsung selama 90-120 mnt tergantung kondisi & acara giling pabrik yang bersangkutan. Mesin yg biasa dipakai dalam proses penggilingan ini bisa berupa Open Top Roller (OTR), Rotorvane dan Press Cup Roller (PCR) untuk teh hitam orthodox dan Mesin Crushing Tearing and Curling (CTC) : buat teh hitam CTC.

Pengeringan

Proses ini bertujuan untuk menghentikan proses oksimatis pada waktu semua komponen kimia penting dalam daun teh sudah secara optimal terbentuk. Proses ini menyebabkan kadar air daun teh turun sebagai 2,5-4%. Keadaan ini dapat memudahkan proses penyimpanan dan transportasi. Mesin yg biasa dipakai dapat berupa ECP (Endless Chain Pressure Dryer) maupun FBD (Fluid Bed Dryer) pada suhu 90-95?C selama 20-22 mnt. Sebenarnya hasil berdasarkan proses ini telah dapat dikatakan menjadi teh hitam meski masih memerlukan proses lebih lanjut buat memisahkan & mengklasifikasikan teh berdasarkan kualitasnya. Untuk itu dibutuhkan proses sortasi dan grading.

Sortasi and Grading

Sortasi bertujuan buat memisahkan teh kering menurut rona, berukuran & berat. Sedangkan grading bertujuan untuk memisahkan teh dari standar mutu yg telah disepakati secara nasional juga internasional.

Pengemasan

Teh yang telah disortasi & digrading dimasukkan dalam peti miring yg selanjutnya dimasukkan ke dalam tea bulker buat dilakukan pencampuran (blending). Proses ini buat menghomogenkan produk teh pada grade yang sama. Mengingat produk pertanian senantiasa mengalami fluktuasi kualitas, maka produk teh menurut batch ke batch dari hari ke hari senantiasa berbeda. Untuk menghilangkan disparitas tadi dilakukan pencampuran.

B. Pengolahan Teh Hijau

Diantara ketiga jenis teh, yakni teh hitam, teh oolong dan teh pouchong, serta teh hijau,  teh hijau boleh dinobatkan sebagai teh  yang memiliki  potensi aktivitas kesehatan yang paling baik. Hal tersebut dikarenakan katekin yang merupakan komponen bioaktif, selama pengolahan teh hijau dipertahankan jumlahnya dengan cara menginaktivasi enzim polifenol oksidasi, baik itu  melalui proses pelayuan maupun pemanasan. Pada proses pengolahan teh lainnya, katekin dioksidasi menjadi senyawa orthoquinon, bisflavanol, theaflavin dan thearubigin yang kemampuannya tidak sehebat katekin.

Pengolahan teh hijau Indonesia menganut serangkaian proses fisik dan mekanis tanpa atau sedikit mengalami proses oksimatis terhadap daun teh melalui sistem panning (sangray). Tahapan pengolahannya terdiri atas pelayuan, penggulungan, pengeringan, sortasi & grading serta pengemasan.

Pelayuan

Berbeda menggunakan proses pengolahan teh hitam, pelayuan disini bertujuan menginaktifasi enzim polyphenol oksidase agar tidak terjadi proses oksimatis. Akibat proses ini daun menjadi lentur & gampang digulung. Pelayuan dilakukan dengan cara mengalirkan sejumlah daun teh kedalam mesin pelayuan Rotary Panner pada keadaan panas (80-100?C) selama dua-4 menit secara kontinyu. Penilaian tingkat layu daun dalam pengolahan teh hijau dinyatakan sebagai persentase layu, yaitu perbandingan daun pucuk layu terhadap daun basah yg dinyatakan pada %. Persentase layu yang ideal buat proses pengolahan teh hijau merupakan 60-70%. Tingkat layu yg baik ditandai menggunakan daun layu yang berwarna hijau cerah, lemas & lembut serta mengeluarkan bau yg spesial .

Penggulungan

Pada proses pengolahan teh hijau, penggulungan merupakan tahapan pengolahan yang bertujuan buat membangun mutu secara fisik. Selama proses penggulungan daun teh akan dibentuk menjadi gulungan kecil dan terjadi pemotongan. Proses ini dilakukan segera sehabis daun layu keluar berdasarkan mesin pelayuan. Mesin penggulung yang biasa digunakan adalah Open Top Roller 26danquot; type single action selama 15-17 mnt.

Pengeringan

Pengeringan bertujuan untuk mereduksi kandungan air pada daun hingga 3-4%. Untuk mencapai kadar air yang demikian rendahnya, pengeringan umumnya dilakukan pada dua tahap. Pengeringan pertama bertujuan mereduksi kandungan air dan memekatkan cairan sel yg menempel dalam permukaan daun. Hasil pengeringan pertama masih 1/2 kemarau menggunakan tingkat kekeringan (kemarau dibagi basah) sekira 30-35%. Mesin yg dipakai pada proses pengeringan pertama ini merupakan ECP dengan suhu masuk 130-135?C dan suhu keluar 50-55?C menggunakan lama pengeringan sekira 25 mnt. Disamping memperbaiki bentuk gulungan, pengeringan ke 2 bertujuan buat mengeringan teh sampai kadar airnya menyentuh angka 3-4%. Mesin yg digunakan dalam proses ini biasanya berupa Rotary Dryer type repeat roll. Lama pengeringan berkisar antara 80-90 mnt dalam suhu dibawah 70?C.

Sortasi dan grading

Seperti halnya pada proses pengolahan teh hitam, proses ini bertujuan buat memisahkan, memurnikan & membangun jenis mutu agar teh dapat diterima baik dipasaran lokal juga ekspor.